Kurang Aktivitas Fisik Sebabkan Kegemukan

Rabu, 7 Januari 2015 | 19:22 WIB
VS
B
Penulis: Vento Saudale | Editor: B1
Obesitas pada anak.
Obesitas pada anak.

Bogor - Kegemukan pada usia dini hendaknya menjadi perhatian serius orangtua. Kegemukan di usia anak-anak akan terbawa sampai dewasa dan berdampak pada peningkatan risiko penyakit degeneratif (penurunan fungsi organ).

Kegemukan jangka pendek merugikan pertumbuhan anak-anak dan jangka panjang berisiko besar terkena hipertensi, diabetes, penyakit kardiovaskuler, dan penyakit degeneratif lainnya.

Hal itu dikatakan Anwar Musadat, mahasiswa S2 Program Studi Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB), Rabu (7/1). Anwar dalam penelitiannya beberapa waktu lalu menerangkan faktor yang paling dominan mempengaruhi kegemukan anak di usia 6 hingga 14 tahun adalah kurangnya aktivitas fisik.

"Anak yang aktivitas fisiknya kurang mempunyai risiko gemuk 1,491 kali dibandingkan dengan yang aktivitas fisiknya cukup," katanya.

Kata Anwar, anak gemuk cenderung memiliki kepercayaan diri rendah, gangguan makan, dan memiliki konsep diri negatif. Seiring dengan meningkatnya status sosial ekonomi masyarakat, gaya hidup kurang baik seperti sering mengonsumsi makanan siap saji dan kurangnya aktivitas fisik.

Anwar mengategorikan aktivitas fisik menjadi dua yaitu aktivitas kurang dan aktivitas cukup. Anak dinyatakan aktivitas fisiknya cukup jika melakukan aktivitas fisik berat atau sedang seperti bersepeda dengan total waktu seminggu lebih dari 150 menit. Sedangkan aktivitas fisik kurang, apabila tidak melakukan aktivitas fisik berat, sedang atau bersepeda dengan total waktu lebih 15 menit dalam seminggu.

Selain aktivitas fisik, konsumsi energi, protein dan kebiasaan makan buah-buahan, sayuran, makan/minum manis, makanan berlemak, dan jeroan juga mempengaruhi.

"Kecenderungan anak usia 6 sampai 14 tahun saat ini, konsumsi protein berlebih ditambah mempunysi kebiasaan makan/ minum manis, makan makanan berlemak dan kebiasaan makan jeroan," terangnya.

Anwar menjelaskan, kebiasaan sering dalam artian anak tersebut frekuensi konsumsi lebih dari tiga kali dalam seminggu.

Konsumsi energi dinyatakan normal jika konsumsi kurang dari 120 persen AKG (Angka Kecukupan Gizi). Konsumsi protein dinyatakan lebih jika konsumsinya lebih dari 120 persen AKG. Konsumsi buah dan sayur dinyatakan cukup jika mengonsumsi buah atau sayur lebih dari empat porsi per hari dan dilakukan tujuh hari dalam seminggu.

Dalam penelitian Anwar, juga terungkap bahwa ada hubungan nyata antara jenis kelamin dan generik orang tua dengan kegemukan. Hasil penelitian menunjukkan anak laki-laki lebih berisiko gemuk.

Kegemukan pada anak tidak ada hubungan nyata antara pendidikan ayah (orangtua), jumlah anggota keluarga, status sosial ekonomi, status kesehatan anak, kebiasaan makan/minum manis dan kebiasaan makan jeroan dengan kegemukan anak.

"Berdasarkan pertimbangan orang tua dari masing-masing faktor di atas, ternyata aktivitas fisik merupakan variabel paling dominan yang berhubungan dan berpengaruh terhadap kegemukan," ujarnya.

Upaya pencegahan sejak dini terhadap kejadian kegemukan harus menjadi perhatian serius orangtua, salah satunya dengan meningkatkan program asupan seimbang dalam keluarga dan olahraga.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon