AS Berikan Penghargaan 5 Perempuan Inspiratif Indonesia

Selasa, 3 Maret 2015 | 22:14 WIB
RA
WP
Penulis: Rizky Amelia | Editor: WBP
Poster Indonesian Woman of Change 2015
Poster Indonesian Woman of Change 2015 (Istimewa)

Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui kedutaannya di Indonesia memberikan penghargaan kepada lima orang perempuan inspiratif Indonesia.

Kelima perempuan itu dianugerahi penghargaan "Indonesian Women of Change 2015". Acara penyerahan penghargaan dilakukan di pusat kebudayaan Amerika @america, Jakarta Selatan, Selasa (3/3) malam.

Wakil Duta Besar AS untuk Indonesia, Kristen Bauer menjelaskan penghargaan diberikan dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret 2015. "Penghargaan diberikan kepada perempuan Indonesia yang berani memperjuangkan hak-hak perempuan, meningkatkan partisipasi perempuan dalam politik dan menangani kekerasan terhadap perempuan," kata Kristen.

Lima orang yang dinilai layak disebut sebagai tokoh perempuan pembawa perubahan adalah Rambu Atanau, Lian Gogali, Veronica Ata, Febriati Khairunnisa dan Kombes Sri Rumiati.

Selain menerima penghargaan, mereka juga berbagi cerita soal perjuangannya untuk perempuan Indonesia. Kombes Sri misalnya mengisahkan bagaimana dirinya mendorong agar perempuan mempunyai peranan lebih di kepolisian. Sri lantang menyuarakan penolakannya terhadap sistem rekrutmen polisi wanita (polwan) yang mensyaratkan keperawanan.

"Polwan diseleksi sama, pelatihannya sama, namun perjalanan karirnya masih ada perbedaan dengan pria. Itu yang saya perjuangkan hingga kini," Kombes Sri yang juga memperjuangkan agar polwan dapat mempunyai kesempatan berkarir yang sama dengan lelaki.

Febriati membagi kisah yang tak kalah inspiratif. Bersama suami, perempuan asal Lombok ini membangun Bank Sampah  guna mengatasi persoalan lingkungan di daerahnya. Dengan program ini, Febriati mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah. Febriati berhasil mengajak 30.000 masyarakat untuk bersama-sama memilih sampah, kemudian memproses sampah-sampah tersebut.

"Kami ingin berbagi pengalaman ini agar bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia supaya mereka tidak menjadi orang yang skeptis. Sampah bisa dikelola dengan baik dan bisa menghasilkan uang. Kami janjikan manfaat dari mengelola sampah," kata Febriati.

Sementara Veronica, dalam pemaparannya menerangkan soal upaya membuat perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT) melek politik. Veronica menggagas Jaringan Politik Perempuan NTT yang secara aktif memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.

Melalui kegiatannya ini, Veronica ingin lebih banyak perempuan yang terlibat dalam politik praktis baik di eksekutif maupun legislatif.

Sementara Rambu Atanau mengemban misi mulia untuk memberikan pendampingan pada korban kekerasan. Sejak muda sudah aktif dalam kegiatan sosial, Rambu kini menginisiasi berdirinya tempat penampungan bagi perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan.

Dalam upayanya menekan angka kekerasan terhadap anak dan perempuan, Rambu menggandeng pemangku kepentingan untuk ambil bagian dalam programnya tersebut. Rambu juga menumbuhkan konsultan di desa guna memberikan konseling isu kekerasan terhadap perempuan dan anak.

"Tahun 2013, kami mengembangkan strategi pendekatan dan pelibatan laki-laki dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pelaku kekerasan adalah pria. Kalau tidak menjangkau mereka, berikan penyadaran, rasanya tidak mungkin untuk mengurangi angka kekerasan," ujar Rambu.

Lian Gogali menjadi satu-satunya penerima penghargaan yang berhalangan hadir. Lian dianugerahi penghargaan sebagai perempuan perubahan berkat usahanya dalam memberdayakan remaja di Poso. Lian membangun sekolah perempuan Mosintuwu yang dijadikan pusat untuk mendiskusikan isu-isu toleransi, perdamaian, gender, hak politik, ekonomi, layanan kesehatan dan lainnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon