Mandiri Sekuritas Berhasil Realisasikan Penjaminan Emisi Rp 28,6 T
Selasa, 7 Juli 2015 | 19:35 WIB
Jakarta – PT Mandiri Sekuritas telah merealisasikan 21 mandat penjaminan emisi (underwriting) senilai Rp 28,6 triliun sepanjang semester I tahun ini. Perseroan mendapatkan mandat underwriting dari 16 emiten untuk surat utang dan 5 emiten.
Direktur Investment Banking Mandiri Sekuritas Iman Rachman menjelaskan, perseroan telah menjadi underwriter surat utang senilai Rp 25 triliun pada semester I. Sementara untuk ekuitas, perseroan telah menjalankan mandat sebesar Rp 3,6 triliun.
"Dari total mandat Rp 25 triliun bagian Mansek sebesar Rp 6 triliun," tutur Iman di Jakarta, Selasa (7/7).
Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk mandat underwriting ekuitas perseroan telah melaksanakan satu penawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) saham, tiga penambahan modal dengan mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue dan satu nonpreemptive rights issue.
Tahun ini perseroan menargetkan melaksanakan 20 mandat emiten untuk surat utang dan 10 mandat ekuitas. Untuk semester II perseroan telah mendapatkan tiga mandat surat utang baru senilai Rp 3,2 triliun dan lima mandat ekutas dengan porsi Mansek sebesar Rp 6 triliun.
"Kami telah mendapatkan mandat untuk tiga aksi rights issue dan dua IPO untuk semester II," ucapnya.
Iman yakin target perseroan tahun ini dapat terealisasi. Hingga saat ini sebagian besar target perolehan mandat Mansek telah terealisasi.
Sementara itu, Manging Director Mansek Laksono Widodo mengatakan bahwa per 7 Juli 2015, nilai transaksi harian Mansek mencapai Rp 524 triliun. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pencapaian tahun lalu senilai Rp 550 miliar. Mansek menargetkan nilai transaksi harian hingga akhir tahun mencapai Rp550 miliar.
"Ya memang tidak terlalu tinggi, apakah tercapai atau tidak, lihat nanti. Kalau dilihat, nilai transaksi di bursa juga menurun kan," jelasnya.
Sepanjang semester I Mansek berhasil berada di posisi ke enam sebagai broker dengan nilai transaksi terbanyak, yaitu mencapai Rp 64,4 triliun dengan market share sebesar 4,1 persen. Nilai tersebut turun sedikit dari pencapaian semester I/2014 yang mencapai Rp 67,7 triliun dengan porsi 4,5 persen.
Laksono melanjutkan, target indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga akhir tahun ini sebesar 4.500. "Masih sama dengan target bulan lalu," ucapnya.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Selain itu sentimen negatif dari luar negeri masih perlu diantisipasi.
Laksono meilai, isu kenaikan suku bungan bank sentral Amerika Serikat (AS) dan sentimen Yunani masih memengaruhi pasar saham. "Pertumbuhan ekonomi semester II belum akan membaik, dari global juga ada sejumlah sentimen. Maka wajar konsensus forecast diturunkan," kata Laksono.
Menurutnya, meskipun proyek pemerintah sudah mulai berjalan tidak akan langsung membuat pasar saham positif. Diperkirakan, belanja infrastruktur pemerintah baru akan terealisasi pada Agustus atau September tahun ini, sehingga waktunya sempit untuk terapresiasi pasar.
Mansek juga memprediksi, kinerja emiten pada semester II juga belum akan membaik seiring masih melambatnya pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut. "Ini dampak dari daya beli masyarakat."
Paling tidak, kinerja perusahaan-perusahaan eksportir, properti, dan pelayaran yang diperkirakan masih bisa berkinerja positif. "Kalau batu bara tidak ya, sulit," tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




