WHO Inisiasi Pekan Peduli Antibiotik Sedunia Pertama

Selasa, 17 November 2015 | 14:22 WIB
DM
IC
Penulis: Dina Manafe | Editor: CAH
Obat antibiotik
Obat antibiotik

Jakarta - Badan Kesehatan Dunia (WHO) menginiasi gerakan Pekan Peduli Antibiotik Sedunia untuk pertama kalinya selama 16-22 November 2015. Gerakan ini sebagai salah satu bentuk kampanye WHO yang beranggotakan 194 negara untuk meningkatkan pemahaman yang benar masyarakat Indonesia mengenai antibiotik beserta ancaman resistensinya.

Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan, mengatakan, meningkatnya resistensi terhadap antibiotik adalah krisis global, dan pemerintah berbagai negara menyadari bahwa hal ini merupakan tantangan kesehatan masyarakat terbesar saat ini.

"Resistensi antibiotik telah mencapai tingkat membahayakan di berbagai belahan dunia, dan melemahkan kemampuan kita mengobati penyakit infeksi dan membuat berbagai kemajuan dunia kedokteran seolah tak berarti," kata Margaret saat peluncuran hasil survei pemahaman masyarakat di sejumlah negara mengenai resistensi antibiotik dalam keterangan tertulisnya kepada SP, di Jakarta, Senin (16/11).

Hasil survei terbaru WHO tersebut menunjukkan, sebagian besar masyarakat ternyata kurang paham mengenai ancaman resitensi obat antibiotik. Hampir dua pertiga atau 64% dari sekitar 10.000 orang yang mengikuti survei di 12 negara menyatakan mereka tahu resistensi antibiotik adalah masalah yang berdampak kesehatan, namun mereka tidak paham bagaimana hal itu terjadi dan cara mengatasinya.

Sebagai contoh, 64% responden percaya bahwa antibiotik dapat digunakan untuk menyembuhkan batuk-pilek dan flu, padahal antibiotik tak memberi dampak apapun pada virus. Hampir sepertiga atau 32% responden percaya mereka perlu menghentikan penggunaan antibiotik begitu merasa sehat, daripada menuntaskan konsumsi obat yang diresepkan.

Margaret mengatakan, resistensi antibiotik terjadi saat bakteri berubah dan menjadi kebal terhadap antibiotik yang digunakan untuk mengobati penyakit yang ditimbulkan bakteri tersebut. Pemakaian yang salah dan berlebihan meningkatkan perkembangan kekebalan bakteri, dan survei ini menunjukkan bahwa perilaku masyarakat, ketidak tahuan serta salah kaprah menyumbang pada fenomena tersebut.

"Temuan survei ini menunjukkan mendesaknya tuntutan untuk meningkatkan pemahaman seputar resistensi antibiotik," kata Wakil Direktur Jenderal WHO untuk Resistensi Antimikroba, dr Keiji Fukuda.

Survei yang melibatkan 12 negara ini berisi 14 pertanyaan tentang penggunaan antibiotik dan resistensi antibiotik., menggunakan metode online dan wawancara langsung. Negara tersebut adalah Barbados, Tiongkok, Mesir, India, Indonesia, Meksiko, Nigeria, Rusia, Servia, Afrika Selatan, Sudan dan Vietnam.

Meskipun tidak lengkap, survei ini dan survei lain membantu WHO dan mitra lain untk melihat kesenjangan pengetahuan publik mengenai masalah resistensi antibiotik.

Keiji menambahkan, hasil survei ini mendorong WHO meluncurkan kampanye global bertemakan "Antibiotik: Gunakan dengan Bijaksana. Kampanye ini bertujuan meningkatkan pemahaman terhadap masalah ini dan merubah cara kita menggunakan antibiotik. Mendorong praktek yang baik di masyarakat, pembuat kebijakan, pekerja profesional di bidang kesehatan manusia dan hewan, juga pertanian, untuk menghindari perparahan dan penyebaran resistensi antibiotik.

"Kampanye ini adalah satu dari berbagai hal yang kami kerjakan bersama pemerintah berbagai negara serta mitra-mitra untuk menekan resistensi antimikroba, salah satu tantangan kesehatan terbesar abad 21, yang memerlukan perubahan perilaku global setiap individu dan masyarakat," kata Keiji.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon