Ini Penyebab Kegagalan Swasembada Beras di Batanghari, Jambi
Kamis, 29 September 2016 | 13:26 WIB
Jambi - Alih fungsi sawah menjadi perkebunan kelapa sawit dan karet menjadi pemicu utama gagalnya swasembada beras di Kabupaten Batanghari. Kegagalan swasembada beras tersebut menyebabkan daerah itu kekurangan pasokan hingga 11.000 ton akibat produksi padi tidak mencapai target.
Kepala Dinas Pertanian Batanghari Budi Narso mengatakan, banyaknya petani meninggalkan tanaman padi dan beralih menanam kelapa sawit dan karet menyebabkan luas tanam dan produksi padi di Batanghari terus merosot.
Produksi padi di Batanghari mulai Januari - akhir September ini baru mencapai 28.000 ton. Sedangkan target produksi padi di Batanghari tahun ini sekitar 39.000 ton.
"Kondisi ini menyebabkan Batanghari masih kekurangan 11.000 ton beras," kata Budi Narso didampingi Kabid Produksi Pertanian Dinas Pertanian Batanghari, Darwin Nasution kepada SP, Kamis (30/9).
Menurut Budi Narso, banyaknya petani tanaman pangan di Batanghari beralih menanam kelapa sawit dan karet karena menanam sawit dan karet lebih mudah. Kemudian hasil kebun sawit dan karet dinilai lebih menguntungkan. Selain itu para petani di Batanghari banyak beralih menanam sawit dan karet, karena sawah mereka sering gagal panen akibat banjir dan kemarau.
Dikatakan, untuk mengatasi krisis beras sekaligus mencapai target swasembada beras di daerah itu, Dinas Pertanian Batanghari akan mengerahkan petani melakukan tanam raya padi pada pada areal 350 hektare (ha) mulai Oktober 2016. Penanaman padi dilakukan di semua sawah yang ada di delapan kecamatan.
Untuk mengerahkan petani menanam padi di daerah itu, lanjut Budi Narso, pihaknya memberikan bantuan para petani melalui kelompok tani. Bantuan yang diberikan antara lain bibit padi, pupuk, traktor tangan dan peralatan pertanian lainnya.
"Hasil panen tanaman padi pada areal 350 ha tersebut diharapkan mampu mengatasi kekurangan beras di Batanghari tahun 2017. Berdasarkan hasil panen padi di Batanghari selama ini rata-rata 5,9 ton gabah kering giling (GKG)/ha, maka produksi padi dari sawah 350 ha tersebut diperkirakan mencapai 2.065 ton GKG,"katanya.
Menurut Budi Narso, luas areal sawah di Batanghari saat ini mencapai 7.000 ha. Namun belum semua sawah di daerah itu ditanami petani. Penyebabnya, yakni bencana banjir dan kemarau. Bencana banjir dan kemarau tahun ini menyebabkan banyak petani di daerah itu kekurangan modal untuk pengadaan biaya pengolahan sawah, pembelian benih padi dan pupuk.
"Petani yang sudah memasuki panen raya padi di Batanghari akhir September ini baru di dua kecamatan, yakni Kecamatan Marosebo Ulu dan Kecamatan Mersam. Sementara petani di enam kecamatan lainnya melakukan panen raya Oktober mendatang. Namun hasil panen padi di Batanghari hingga akhir tahun hanya 28.000 ton GKG. Hasil panen tersebut belum memenuhi target sekitar 39.000 ton GKG," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




