Bidik Emiten Terbanyak di ASEAN, BEI Bersinergi dengan Underwriter

Jumat, 10 Maret 2017 | 10:15 WIB
JA
WP
Penulis: Jeanny Arylien Aipassa | Editor: WBP
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang P.S. Brodjonegoro mempresentasikan materi Alternatif Pembiayaan Infrastruktur Melalui PINA dan KPBU, dalam Seminar Underwriting Network 2017, di The Anvaya Beach Resort, Bali, Jumat 10 Maret 2017.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang P.S. Brodjonegoro mempresentasikan materi Alternatif Pembiayaan Infrastruktur Melalui PINA dan KPBU, dalam Seminar Underwriting Network 2017, di The Anvaya Beach Resort, Bali, Jumat 10 Maret 2017. (SP/Jeany Arylien Aipassa)

Bali- Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berupaya meningkatkan jumlah perusahaan tercatat (emiten) untuk mendorong daya saing pasar modal domestik agar bisa bersaing dengan pasar modal negara ASEAN. Terkait dengan itu, BEI terus bersinergi dengan penjamin emisi efek (underwriter) melalui forum "Underwriting Network 2017".

Direktur Utama BEI Tito Sulistio, BEI membina kerja sama dan bersinergi dengan underwriter guna mendukung target BEI menjadikan pasar modal domestik dengan nilai transaksi dan jumlah emiten terbesar di ASEAN pada 2020. "Untuk mencapai target ini, paling tidak kami harus menambah 30 emiten per tahun sampai 2020. Kalau ini tercapai, kita akan menjadi pasar modal yang lebih besar dari Thailand, Malaysia bahkan Singapura," kata Tito, saat membuka forum "Underwriting Network 2017", di The Anvaya Beach Resort, Kuta, Bali, Jumat (10/3).

Dia menjelaskan, peningkatan jumlah emiten akan berkorelasi positif terhadap pertumbuhan nilai transaksi perdagangan efek. Semua itu tidak terlepas dari peningkatan kapasitas dan kualitas perusahaan efek yang memiliki kegiatan usaha underwriter.

Terkait itu, Tito berpendapat, BEI terus melakukan kordinasi dan sinergi, bahkan memberikan sosialisasi kepada underwriter. Pada 2016, beberapa bentuk sosialisasi yang dilakukan antara lain focus group discussion (FGD), one on one meeting, serta seminar bertema "Potentioal Listed Companies Outlook" dalam upaya mengembangkan underwriter di pasar modal Indonesia.

Sebagai tindak lanjut, pada 2017 BEI bekerja sama dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan seminar Underwriting Network 2017.
Kegiatan ini diikuti underwriter, investor institusi, termasuk manajemen investasi, asuransi, modal ventura dan dana pensiun.

Seminar ini menghadirkan tiga pembicara, yakni Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang P.S. Brodjonegoro, Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro, dan Direktur Eksekutuf Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya.

Dalam sambutannya, Tito mengungkapkan, ke depan pertumbuhan pasar modal Indonesia sangat menjanjikan karena penetrasi pasar telah dilakukan sampai ke 34 provinsi. Hal itu, terlihat dari antusiasme masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. "Saya pernah bertemu dengan seorang ibu asal Manokwari saat peresmian galeri investasi, yang tertarik menabung dalam bentuk saham. Ini menunjukkan sosialisasi pasar modal sudah merambah sampai ke pelosok," ujar Tito.

Optimistis
Soal target BEI menjadi pasar modal dengan nilai transaksi dan jumlah emiten terbesar di ASEAN pada 2020, Tito optimistis akan tercapai. Hal itu sudah terlihat dari likuiditas transaksi saham per hari yang sudah melampaui Bursa Singapura, pada akhir 2016 bahkan di awal 2017.

Pada Februari 2017, nilai transaksi harian BEI menembus Rp 9,3 triliun, lebih tinggi dibandingkan rata-rata transaksi harian pada 2016 sebesar Rp 7,48 triliun. Bahkan BEI mencatat rekor transaksi tertinggi sepanjang sejarah pada 8 Februari 2017 dengan frekuensi transaksi 472.056 kali melampaui rekor sebelumnya pada 11 November 2016 sebanyak 433.674 kali transaksi.

Secara rata-rata frekuensi transaksi perdagangan harian saham pada 2017 mencapai 324.736 kali transaksi. Angka tersebut menunjukkan kenaikan 22,94% dibandingkan dengan rata-rata frekuensi transaksi perdagangan harian saham di 2016 sebesar 264.127 kali transaksi. "Pencapaian rekor ini menunjukkan BEI memiliki likuiditas terbaik dibandingkan dengan bursa-bursa lain di kawasan Asia Tenggara," kata Tito.





Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon