Moeldoko: Pertanian Tidak Berhenti di Budidaya
Jumat, 2 Maret 2018 | 14:12 WIB
Jakarta - Kedaulatan pangan mesti dicapai dengan mengintegrasikan mata rantai produksi. Mulai dari budi daya, penanganan pasca panen, pemasaran, branding, dan membuka akses pasar. Hal itu dikatakan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dr. Moeldoko dalam kuliah umum dengan tema "Peran Perempuan dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional" di hadapan Organisasi Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (PT HKTI) di Gedung Krida Bakti Sekretariat Negara, Jakarta.
Di awal pemaparan yang dihadiri oleh 200 peserta, Moeldoko menyoroti tentang tahapan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Mulai dari tingkat yang paling bawah yakni ketahanan pangan, swasembada pangan, dan yang paling ideal adalah kedaulatan pangan. "Pada tahap kedaulatan pangan, negara sanggup memberikan pangan kepada setiap warga negara," ungkapnya dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Jumat (2/3).
Untuk menuju ke kondisi ideal ini, tentu harus realistis. Bawang putih misalnya, hingga saat ini masih impor, lantaran tanaman ini butuh persyaratan ketinggian minimal, sehingga hanya di beberapa tempat di Indonesia yang cocok untuk bawang putih. Misalnya di Sembalun, Nusa Tenggara Barat, Lombok dan Berastagi, Sumatera Utara.
Moeldoko juga memberi penekanan, masalah pertanian bukan saja berhenti pada tahap on farming (budidaya), namun juga sampai pada tahap pasca panen. Dicontohkan bagaimana petani sayur yang membawa hasil produknya ke pasar dengan cara diduduki atau ditiduri dalam perjalanan. Cara ini tentu mengurangi mutu produk.
Pada kondisi inilah perempuan HKTI harus memberi pembelajaran yang baik. "Kehadiran kalian harus memberi added value lewat peningkatan kualitas, branding, dan akses pasar," terang Moeldoko.
Dalam soal produksi kelapa, misalnya, masih banyak dari petani kelapa yang berpikir bagaimana menjual kelapa. Padahal ada banyak produk unggulan derivatif dari kelapa. Semisal virgin coconut oil, arang, dan sabut. "Hal-hal seperti ini lebih dieksploitasi. Penyelesaian masalah petani harus kita selesaikan dari ujung ke ujung," tandas Moeldoko.
Oleh karena itu, lanjut Moeldoko, PT HKTI perlu menggali kembali kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber pangan yang telah dikonsumsi turun-temurun, seperti sagu di Papua. Selain itu lebih melihat komoditas pertanian dengan kacamata yang lebih lebar. Jangan hanya berpikir padi, jagung, kedelai. Tapi juga hortikultura, macam buah, sayur, dan bunga. Termasuk kelapa sawit, karet, tanaman keras, perikanan darat, dan peternakan.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Perempuan HKTI Dian Novita S dan juga Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menjelaskan bahwa peranan perempuan dalam hal peningkatan pertanian sangatlah penting.
"Karena perempuan dalam konteks sebagai prajurit pertanian banyak hal yang harus dikerjakan mengingat petani perempuan jumlahnya lebih banyak daripada laki – laki " ujarnya.
Dipaparkan juga bahwa banyak hal yang menjadi tanggung jawab HKTI sebagai organisasi yang fokus atas isu - isu terkait dengan pembangunan sektor pertanian terlebih khususnya tentang kedaulatan dan ketahanan pangan. Semua kerja perempuan HKTI diharapkan menjadi organisasi yang mampu menyentuh langsung masyarakat khususnya yang terkait dengan perempuan dalam pertanian. Diharapkan semua sektor terkait baik pemerintah maupun swasta turut ikut membantu proses ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




