Kalangan Arsitek Angkat Bicara soal Iklan Kampanye Prabowo

Selasa, 18 Desember 2018 | 21:46 WIB
WP
WP
Penulis: Whisnu Bagus Prasetyo | Editor: WBP
Prabowo Subianto (kanan) dan Sandiaga Uno.
Prabowo Subianto (kanan) dan Sandiaga Uno. (BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao)

Jakarta - Iklan video kampanye terbaru pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang tersebar di sejumlah media sosial mendadak viral dan mengundang komentar netizen, termasuk kalangan arsitek.

Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia Ahmad Djuhara menilai, ada bias dari iklan kampanye ini tentang profesi arsitek yang perlu diluruskan. Pasalnya, dalam iklan kampanye tersebut, memberi pesan cari kerja susah & jadi arsitek susah. "Padahal saat ini, profesi arsitek lebih didorong untuk bekerja mandiri, self-employed sebagai entrepreneur, masuk dunia kreatif, tidak sama seperti pekerjaan lain," demikian cuit Djuhara, dalam akun twitter pribadinya, dikutip Selasa (18/12).

Menurut Djuhara, Gerindra telah salah menyampaikan pesan ke masyarakat. "Bagaimanapun situasinya, partai Gerindra sebaiknya ikut membangun profesi, vokasi & okupasi apapun di Indonesia dengan nada yang optimistik & positif," ujar Djuhara.

Ia menegaskan, arsitek adalah profesi dan bukan hanya sekedar pekerjaan atau okupasi, serta bukan vokasi. Apalagi dengan UU 6/2017, maka arsitek adalah profesi yang diregulasi negara yang berkekuatan dan berkonsekuensi hukum.

Sementara pengamat Komunikasi dari Universitas Bung Karno Cecep Handoko menilai, video kampanye terbaru Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, yang menyindir profesi arsitek, serta profesi mandiri terkesan menakut-nakuti pemuda yang baru lulus.

Dia menilai, tim kubu Prabowo-Sandi terus-menerus menebar pesan yang cenderung mengajak publik untuk pesimistis.

Di era digital seperti saat ini, kata dia, peluang usaha dari berbagai sektor terbuka lebar.

Diketahui, dalam video berdurasi 1 menit yang diunggah akun Twitter resmi Partai Gerindra @Gerindra Jumat (14/12) digambarkan anak muda yang baru menyelesaikan pendidikan S1 Jurusan Teknik Arsitek. Di awal video diperlihatkan Prapurna S yang baru mengikuti prosesi wisuda dan foto bersama orang tuanya di sebuah studio foto.

Dalam narasi video itu disebutkan bahwa Prapurna optimistis dengan titel yang dimilikinya dan predikat Magna Cumlaude yang disandangnya bisa dengan mudah mencari pekerjaan. "Katanya kan lowongan banyak, jadi bisa kerja, kerja, kerja. Tinggal nunggu panggilan, deh," katanya di dalam video itu.

Namun setelah beberapa waktu mengirimkan banyak lamaran pekerjaan dan mendatangi wawancara kerja, Prapurna belum juga mendapat pekerjaan yang diidamkan. Hingga akhirnya sang ayah bertanya hasil pencarian kerja itu.

Prapurna lalu banting setir dengan mencoba sekian banyak pekerjaan yang tak lagi sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Mulai dari jasa antar, petugas bell boy, valet parking, hingga fotografer. "Sementara, kerja gini juga enak, kok. Gajinya juga oke," katanya.

Namun hal ini tidak disetujui sang ayah. "Situasinya harus segera diubah. Gak bisa nunggu, gimana nanti. Sudah sekarang waktunya mikir, harus mikir. Sudah waktunya kita bergerak, untuk Indonesia adil makmur dengan Prabowo dan Sandi," kata si ayah.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon