Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi Diminta Tidak Terapkan Strategi Propaganda
Selasa, 5 Februari 2019 | 16:17 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Analis Politik Exposit Strategic Arif Susanto meminta Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi serta tim suksesnya tidak terjebak dalam strategi propaganda dalam berkampanye. Pasalnya, jebakan propaganda tidak menguntungkan bagi kedua kubu dan juga tidak mencerdaskan rakyat sebagai pemilih.
"Kita harapkan Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi serta timnya tidak terjebak pada strategi propaganda yang justru merugikan keduanya dan masyarakat. Elektabilitas keduanya juga tidak naik sementara rakyat tidak mengalami pencerdasan politik," ujar Arif kepada Beritasatu.com, Selasa (5/2).
Menurut Arif, strategi kampanye Prabowo-Sandi tampak lebih ofensif dibandingkan strategi kampanye Jokowi-Ma’ruf. Hal ini, kata Arif, tidak lepas dari dua faktor utama, yakni posisi Jokowi sebagai petahana memang menjadikannya target alamiah serangan lawan-lawan politik.
"Kedua, Prabowo-Sandi cenderung menggunakan strategi komunikasi yang menggugah secara subjektif reaksi emosional calon pemilih," tutur Arif.
Arief menilai upaya Prabowo-Sandi untuk memengaruhi persepsi publik dilakukan bukan hanya lewat seleksi fakta atau menunjukkan keburukan lawan dan menyimpan kebaikan mereka, tetapi juga membingkai fakta demi menghasilkan ketidakpuasan atau bahkan kecemasan atas kondisi terkini.
"Strategi Prabowo-Sandi menyasar aspek emosional, tidak jarang strategi tersebut bahkan menghasilkan respons reaksioner kubu lawan," tandas Arif.
Sementara, lanjut Arif, Jokowi-Amin lebih banyak menggunakan narasi-narasi yang bernada positif, seperti menyampaikan keberhasilan pembangunan ekonomi. Arief mengakui model kampanye tersebut lebih bisa diterima kalangan lebih rasional, tetapi terkesan lemah bagi pemilih lebih emosional. Sentuhan terhadap aspek emosional dilakukan lebih lewat pengembangan citra diri mereka dibandingkan serangan ofensif terhadap lawan.
"Belakangan, Jokowi tampak bereaksi lebih keras terhadap serangan, terutama lewat disinformasi, yang disampaikan lawan-lawannya. Setelah menyampaikan sinyalemen tentang keberadaan politikus sontoloyo, yang menggunakan cara-cara tidak sehat dan strategi politik genderuwo, yang menakut-nakuti rakyat, Jokowi kembali menyampaikan tanggapan menohok minggu lalu," ungkap Arif.
Perubahan strategi ini, kata Arif memiliki kemungkinan berhasil jika disampaikan secara terukur. Jika tidak, menurut Arif, ada peluang Jokowi justru terjebak dalam permainan strategi lawan. Selain tidak harus bereaksi berlebihan terhadap propaganda lawan, Arif menganjurkan Jokowi layak untuk berkonsentrasi pada upaya untuk meningkatkan persepsi positif tentang pemerintahannya sembari mencari momentum tepat untuk memukul balik.
"Faktanya, olok-olok maupun disinformasi memang berhasil menciptakan sensasi politik, tetapi gagal menghasilkan lonjakan elektabilitas. Hal yang sama juga tidak berkontribusi sama sekali bagi pencerdasan pemilih. Jadi, dibandingkan terperangkap strategi propaganda, baiknya kedua pasang kandidat mengembangkan narasi politik lebih konstruktif dan tidak memecah-belah," pungkas Arif.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




