Hasto: Potensi Industri Rempah Besar

Senin, 23 Desember 2019 | 15:49 WIB
MS
FH
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: FER
Ilustrasi Rempah-rempah Jamu
Ilustrasi Rempah-rempah Jamu (Botohindonesia.com)

Jakarta, Beritasatu.com - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menyatakan keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) membentuk Badan Riset dan Inovasi Nasional akan sangat mendukung upaya pengembangan industri pangan nasional.

Ini Alasan PDIP Angkat Isu Jalur Rempah di Rakernas

Hal itu disampaikan Hasto dalam acara diskusi bertema Potensi Rempah Nusantara untuk Kemajuan Indonesia, di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (23/12/2019).

Hasto mengatakan, dalam rapat kerja nasional (Rakernas) I 2020 yang sekaligus perayaan HUT ke-47 PDIP, pihaknya ingin menggali dan menunjukkan betapa besarnya potensi industri pangan berbasis rempah-rempah nasional. Diakuinya, semua itu menjadi lebih realistis untuk dilakukan karena momentum Presiden Jokowi mendorong lahirnya Badan Riset dan Inovasi Nasional.

"Pengembangan industri terkait rempah-rempahan di Indonesia akan semakin maju lewat riset dan penelitian yang lebih kuat," kata Hasto.

Indonesia Berpotensi Menjadi Negara Rempah Terkaya

Quality Director Mustika Ratu, Devita Agus, menjelaskan, untuk mengembalikan status Indonesia sebagai negara produsen sekaligus eksportir utama rempah di dunia, diperlukan adanya kolaborasi antara pemangku kepentingan dari berbagai sektor.

"Di satu sisi, demi meningkatkan kualitas bahan baku rempah, sebaiknya dilakukan pengembangan lembaga riset dan peningkatan sumber daya manusia bertujuan kepada inovasi dan memiliki daya saing di pasar internasional. Sehingga persyaratan standar produk sesuai dengan permintaan negara pengimpor," jelas Devita.

Selanjutnya, kata Devita, perlu adanya inovasi dan kemandirian bahan baku untuk mengatasi kendala ketersediaan bahan baku kosmetika.

"Pemerintah diharapkan memberikan perhatian lebih untuk riset dan penelitian analisis bahan rempah di Indonesia dengan penyediaan instrumen, saran maupun prasarana yang memadainya," kata Devita.

Megawati Minta Jalur Rempah Nusantara Dihidupkan Kembali

Selama ini, salah satu kelemahan Indonesia adalah penerapan teknologi tradisional. Bahkan berdasarkan pengamatan Mustika Ratu, kualitas teknologi yang diterapkan petani mengalami kemunduran sejak krisis, karena mahalnya harga pupuk dan ketiadaan modal. Akhirnya, rempah Indonesia belum bisa menerapkan standar internasional yang berlaku di pasar dunia.

"Rempah Indonesia sebagian besar masih dijual dalam kondisi mentah. Maka kita berharap ada dukungan dari pemerintah soal standar mutu dan penguatan sektor hilir dengan memperbanyak industri pengelolaan rempah. Untuk diketahui, selama ini industri lokal masih tergantung dengan impor bahan baku," tandas Devita.

Sementara Sejarawan Rempah asal Universitas Padjajaran (Unpad), Fadly Rahman, mengingatkan besarnya potensi industri rempah. Sejak zaman dahulu, rempah bagi orang Eropa sangat penting untuk kepentingan media dan revolusi kuliner mereka. Makanya, rempah menjadi awal mula kolonialisme Eropa ke berbagai penjuru dunia.

"Bagi Indonesia sendiri, rempah-rempah adalah bagian dari sejarah, tradisi, dan identitas bangsa yang perlu untuk dijaga serta dilestarikan biodiversitas. Termasuk pelestarian pemanfaatannya," jelas Fadly.

Fadly mengusulkan, pemerintah membuat program yang menyebarkan pengetahuan rempah-rempah melalui sarana-sarana. Sejumlah museum atau pelaku pameran bisa digandeng untuk melaksanakannya. Perlu juga dilakukan program edukasi terpadu di sektor pendidikan dan publik terkait pembudidayaan rempah-rempah dan pemanfaatn praktisnya untuk kesehatan dan kuliner.

"Di sisi petani, pemerintah perlu memberi perharian kepada pemberdayaan langsung dan perhatian khusus terhadap pasar rempah. Selain itu, diperlukan juga program pemberdayaan sektor industri rempah yang ditujukan untuk menjaga keberlangsungan biodiversitas ekosistem rempah. Jangan lupa juga harus dilakukan pengembangan wisata berbasis rempah-rempah," pungkas Fadly.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon