WNI di Australia Galang Bantuan bagi Pengungsi Ile Lewotolok
Rabu, 16 Desember 2020 | 17:08 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Sejumlah warga negara Indonesia di Australia menggalang bantuan bagi para korban erupsi Gunung Ile Lewotolok di dua kecamatan yaitu Ile Ape dan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.
Meletusnya gunung itu pada Minggu, 29 November 2020 mengakibatkan ribuan warga dari dua kecamatan tersebut diungsikan ke Lewoleba. Saat ini, mereka ditampung di sejumlah rumah penduduk dan posko pengungsi di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata.
Untuk meringankan beban mereka, warga Indonesia terutama yang berasal dari Nusa Tenggara Timur yang bermukim di Australia ikut memberikan bantuan bagi para korban.
"Selain warga asal NTT, ada pula satu dua orang lokal Australia ikut memberikan sumbangan ala kadarnya untuk ikut meringankan beban korban bersama pemerintah dan warga masyarakat di seluruh penjuru Tanah Air. Sumbangan beberapa warga negara Australia itu diserahkan melalui warga NTT diaspora di Melbourne," ujar Justin L Wejak, etnograf dan dosen di The University of Melbourne, Victoria, dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, Rabu (16/12/2020).
Menurut Justin yang menetap di kota Melbourne sejak awal 1990, bencana alam apa pun selalu membuat orang tergerak hatinya untuk membantu dengan berbagai cara. Australia adalah negeri rawan kebakaran hutan. Nyaris setiap tahun saat musim kemarau terjadi kebakaran hutan. Kerugian tidak sedikit, flora dan fauna habis terlahap si jago merah.
"Masyarakat Australia biasanya cukup peka dengan kebutuhan warga terdampak bencana. Mereka pasti cepat melakukan apapun untuk membantu sesama korban," kata Melinda Miller, warga Australia yang ikut memberikan sumbangan bagi warga Ile Ape saat berlangsung aksi penggalangan dana.
Menurut Melinda, ia sudah beberapa kali ke Lembata. Ia mengakui, Lembata adalah sebuah pulau eksotis, alamnya sangat indah, dan masyarakatnya sangat menjunjung tinggi solidaritas sosial. Karena itu ia cukup muram saat mendengar tentang erupsi Ile Lewotolok dan dampak buruknya bagi warga.
Melinda, guru Musik di sebuah sekolah swasta di kota Melbourne, yang fasih berbahasa Indonesia, juga mengakui kondisi jalan antarwilayah masih perlu dibenahi pemerintah setempat.
Sementara Silvinus Lado Ruron, guru Bahasa Indonesia dan Pendidikan Agama di salah satu Sekolah Katolik di Melbourne, menyatakan, bencana erupsi Ile Lewotolok telah mengajak banyak orang bersimpati dan membantu dengan caranya masing-masing.
Warga asal NTT lainnya di Melbourne, Yoseph (Anselmus) Pegu, mengamini pentingnya solidaritas sosial menyikapi bencana yang menimpa sesama, termasuk korban erupsi Ile Lewotolok. Aspek itu, kata pria asal Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, yang mendorongnya menginisiasi dompet bencana untuk Lembata melalui grup WhatsApp NTT Diaspora Melbourne yang dikelola Justin Wejak.
Rufin Kedang, pensiunan guru asal Waibalun dan sesepuh komunitas NTT Diaspora di Melbourne, sepakat dengan gagasan dompet bencana untuk Lembata pasca-erupsi Ile Lewotolok. "Sumbangan biar sedikit, tapi jika dikumpulkan tentu menjadi banyak dan bernilai," ujar Rufin, yang sudah puluhan tahun tinggal di kota Melbourne sejak medio-1970an.
Justin mengakui, uang yang terkumpul warga NTT Diaspora di Melbourne disalurkan melalui Caritas Titen Lembata (CTL) yang diketuai Herman Loli Wutun dan Justice, Peace and Integration for Creation (JPIC) SVD Ende, Flores. Kedua lembaga nirlaba ini, kata Justin, sudah banyak dikenal selalu membantu warga yang hidup susah akibat bencana alam maupun warga terdampak virus korona (Covid-19).
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




