Pensiunan Pendeta Hidung Belang Bunuh Kedua Istrinya
Sabtu, 29 September 2012 | 23:08 WIB
Polisi membuka kembali kasus kematian istri pertamanya, tak lama setelah Schirmer diadili atas dugaan membunuh istri keduanya
Pensiunan Pendeta Pennsylvania Arthur Schirmer merupakan playboy tulen, setidaknya begitulah menurut dokumen pengadilan. Ia gemar memangsa anggota jemaat gereja, para perempuan yang tengah kesulitan dalam kehidupan perkawinan. Namun perzinahan agaknya merupakan dosa Pendeta Schirmer yang paling ringan.
Setelah dihukum gara-gara membunuh istri keduanya, kini Schirmer menghadapi tuduhan baru: ia juga membunuh istri pertamanya, Jewel Schirmer, pada 1999. Dewan Juri Pengadilan Lebanon County, Pennsylvania, Jumat (28/9) lalu menyimpulkan: luka-luka yang diderita Jewel, tidak seperti luka-luka seorang yang jatuh terguling dari tangga -- seperti semula didaku oleh Arthur.
Schirmer, kini 64 tahun, sebelum ini selalu mengaku bahwa ia sedang keluar untuk lari pagi, pada 23 April 1999. Ketika kembali ke rumah, ia menemukan tubuh Jewel meringkuk di bawah tangga basement rumah mereka, tergenang dalam kubangan darah. Tulang tengkorak Jewel retak, tubuh, wajah, lengan dan kakinya penuh luka. Meskipun tak ada kepastian bahwa Jewel tewas karena terjatuh, polisi tak menemukan petunjuk bahwa perempuan itu mati dibunuh. Kasus ditutup.
Dua hari setelah peristiwa tersebut, polisi menerima 'laporan' Jonathan Behney, kakak Jewel yang menduga kepala adiknya pecah karena dipukul seseorang. Jonathan menambahkan bahwa, "Arthur, telah mendustai istrinya dan berselingkuh dengan banyak perempuan lain, selama beberapa waktu yang cukup lama."
Namun polisi tetap tak memiliki petunjuk ke arah itu -- dan celakanya, teknologi pada masa itu juga tak bisa membantu memecahkan kasus ini.
Polisi membuka kembali kasus kematian Jewel, tak lama setelah Schirmer diadili atas dugaan membunuh istri keduanya, Betty Jean, di Pegunungan Pocono, Januari lalu. Jaksa penuntut dalam kasus ini menyatakan Schirmer menghantam kepala Betty Jean Schirmer dengan benda tumpul -- lalu ia mengatur seolah-olah Betty tewas dalam kecelakaan lalu lintas.
Jaksa Wilayah Lebanon County, David Arnold, menyatakan, ia tak ingin menyalahkan para penyidik terdahulu.
"Kala itu teknologinya memang belum ada, dan kini kami memilikinya," kata Arnold dalam jumpa pers, Jumat (28/9) kemarin.
Penyidik menyewa sebuah perusahaan rekayasa biomekanik untuk merekonstruksi ulang jatuhnya Jewel ke tangga basement. Mereka menggunakan boneka-uji yang dilengkapi dengan berbagai instrumen: data-data berat dan tinggi badan, arah jatuh, tingkat kekerasan anak tangga, dan sebagainya. Setelah rekonstruksi dilakukan berulang-ulang, disimpulkan bahwa luka-luka yang diderita Jewel bukan karena jatuh dari tangga.
"Kami menemukan bukti yang menunjukkan bahwa Jewel tidak mungkin mengalami luka-luka seperti itu," tulis dewan juri.
Dewan juri mengutip kesaksian medis yang menyatakan bahwa Schirmer mungkin menggunakan benda tumpul untuk membunuh kedua istrinya.
"Kami percaya bahwa perempuan-perempuan Schirmer tidak tewas karena kecelakaan," tambah laporan juri.
Meskipun demikian, pengacara Schirmer, James Swetz, menegaskan bahwa kliennya tak bersalah. Swetz merilis pernyataan dari tiga anak dewasa hasil perkawinan Jewel dengan Schirmer yang mengatakan bahwa ayah mereka tidak bersalah.
"Kami sangat sedih dan kecewa dengan tuduhan palsu terhadap ayah kami," kata pernyataan itu. "Dia adalah orang yang penuh kasih dan lembut yang tidak akan pernah menyakiti siapa pun."
Pensiunan Pendeta Pennsylvania Arthur Schirmer merupakan playboy tulen, setidaknya begitulah menurut dokumen pengadilan. Ia gemar memangsa anggota jemaat gereja, para perempuan yang tengah kesulitan dalam kehidupan perkawinan. Namun perzinahan agaknya merupakan dosa Pendeta Schirmer yang paling ringan.
Setelah dihukum gara-gara membunuh istri keduanya, kini Schirmer menghadapi tuduhan baru: ia juga membunuh istri pertamanya, Jewel Schirmer, pada 1999. Dewan Juri Pengadilan Lebanon County, Pennsylvania, Jumat (28/9) lalu menyimpulkan: luka-luka yang diderita Jewel, tidak seperti luka-luka seorang yang jatuh terguling dari tangga -- seperti semula didaku oleh Arthur.
Schirmer, kini 64 tahun, sebelum ini selalu mengaku bahwa ia sedang keluar untuk lari pagi, pada 23 April 1999. Ketika kembali ke rumah, ia menemukan tubuh Jewel meringkuk di bawah tangga basement rumah mereka, tergenang dalam kubangan darah. Tulang tengkorak Jewel retak, tubuh, wajah, lengan dan kakinya penuh luka. Meskipun tak ada kepastian bahwa Jewel tewas karena terjatuh, polisi tak menemukan petunjuk bahwa perempuan itu mati dibunuh. Kasus ditutup.
Dua hari setelah peristiwa tersebut, polisi menerima 'laporan' Jonathan Behney, kakak Jewel yang menduga kepala adiknya pecah karena dipukul seseorang. Jonathan menambahkan bahwa, "Arthur, telah mendustai istrinya dan berselingkuh dengan banyak perempuan lain, selama beberapa waktu yang cukup lama."
Namun polisi tetap tak memiliki petunjuk ke arah itu -- dan celakanya, teknologi pada masa itu juga tak bisa membantu memecahkan kasus ini.
Polisi membuka kembali kasus kematian Jewel, tak lama setelah Schirmer diadili atas dugaan membunuh istri keduanya, Betty Jean, di Pegunungan Pocono, Januari lalu. Jaksa penuntut dalam kasus ini menyatakan Schirmer menghantam kepala Betty Jean Schirmer dengan benda tumpul -- lalu ia mengatur seolah-olah Betty tewas dalam kecelakaan lalu lintas.
Jaksa Wilayah Lebanon County, David Arnold, menyatakan, ia tak ingin menyalahkan para penyidik terdahulu.
"Kala itu teknologinya memang belum ada, dan kini kami memilikinya," kata Arnold dalam jumpa pers, Jumat (28/9) kemarin.
Penyidik menyewa sebuah perusahaan rekayasa biomekanik untuk merekonstruksi ulang jatuhnya Jewel ke tangga basement. Mereka menggunakan boneka-uji yang dilengkapi dengan berbagai instrumen: data-data berat dan tinggi badan, arah jatuh, tingkat kekerasan anak tangga, dan sebagainya. Setelah rekonstruksi dilakukan berulang-ulang, disimpulkan bahwa luka-luka yang diderita Jewel bukan karena jatuh dari tangga.
"Kami menemukan bukti yang menunjukkan bahwa Jewel tidak mungkin mengalami luka-luka seperti itu," tulis dewan juri.
Dewan juri mengutip kesaksian medis yang menyatakan bahwa Schirmer mungkin menggunakan benda tumpul untuk membunuh kedua istrinya.
"Kami percaya bahwa perempuan-perempuan Schirmer tidak tewas karena kecelakaan," tambah laporan juri.
Meskipun demikian, pengacara Schirmer, James Swetz, menegaskan bahwa kliennya tak bersalah. Swetz merilis pernyataan dari tiga anak dewasa hasil perkawinan Jewel dengan Schirmer yang mengatakan bahwa ayah mereka tidak bersalah.
"Kami sangat sedih dan kecewa dengan tuduhan palsu terhadap ayah kami," kata pernyataan itu. "Dia adalah orang yang penuh kasih dan lembut yang tidak akan pernah menyakiti siapa pun."
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




