TKI Gunungkidul Meninggal di Taiwan, Keluarga Ingin Pulangkan Jenazah
Selasa, 1 Juli 2025 | 09:25 WIB
Gunungkidul, Beritasatu.com – Suasana duka menyelimuti rumah Marno (57) di Padukuhan Mulusan, Kalurahan Mulusan, Kapanewon Paliyan, Gunungkidul. Sejumlah tetangga dan kerabat berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa atas kepergian adik kandungnya, Slamet Nugraha (42), seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang meninggal dunia di Taiwan.
Kabar duka itu pertama kali diterima Marno pada Sabtu (21/6/2025) malam sekitar pukul 20.15 WIB. Seorang teman Slamet yang juga bekerja sebagai TKI di Taiwan mengabarkan Slamet ditemukan dalam kondisi tak bernyawa saat tiba di rumah sakit.
“Teman-temannya sempat membawanya ke rumah sakit, tetapi katanya, Slamet sudah tidak tertolong,” ujar Marno, keluarga almarhum kepada Beritasatu.com, Selasa (1/7/2025).
Slamet diketahui bekerja di Taiwan tanpa dokumen resmi alias sebagai pekerja ilegal. Untuk menghindari razia dari aparat imigrasi, ia kerap berpindah-pindah pekerjaan, dari buruh kebun hingga pekerja serabutan.
“Kadang dia cerita habis nebang pohon, kadang kerja apa saja yang penting bisa kirim uang. Kami sendiri enggak tahu pasti dia kerja apa,” ungkap Marno.
Meski bekerja dalam situasi serba terbatas dan jauh dari keluarga, Slamet dikenal sebagai pribadi yang bertanggung jawab. Ia rutin mengirimkan uang ke kampung halaman dan tak pernah putus memberi kabar, baik lewat pesan singkat maupun video call.
Bahkan, hanya beberapa jam sebelum kabar duka datang, Slamet sempat melakukan panggilan video dengan keluarganya di kampung.
“Pagi harinya dia masih video call, tanya kabar anak-istri, ngobrol seperti biasa. Kami enggak menyangka, sorenya dapat kabar dia sudah meninggal,” ucap Marno.

Menurut keterangan keluarga, Slamet sempat mengeluhkan sakit selama beberapa waktu terakhir. Namun karena kondisi keuangan yang terbatas, ia enggan memeriksakan diri ke dokter dan hanya mengandalkan obat warung.
“Dia bilang ke teman-temannya enggak ada biaya buat berobat. Semua uang dikirim ke sini untuk keluarga. Jadi cuma beli obat seadanya,” lanjut Marno.
Kini, pihak keluarga hanya bisa berharap agar jenazah Slamet bisa segera dipulangkan ke Tanah Air. Namun mereka menyadari, proses pemulangan jenazah dari luar negeri bukan perkara mudah. Selain prosedur yang rumit, biayanya juga tidak sedikit.
“Katanya bisa habis ratusan juta. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak KBRI di Taiwan. Sekarang hanya bisa menunggu kepastian dan berdoa,” ujar Marno.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




