ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Polisi Sita 80 Kg Sabu, 1 Kg Heroin dan 1,3 Ton Ganja di Aceh

Senin, 6 Oktober 2025 | 23:24 WIB
WM
SM
Penulis: Wahyu Majiah | Editor: SMR
Barang bukti narkoba jenis sabu-sabu, heroin, dan ganja yang disita Polda Aceh selama operasi September 2025 ditampilkan dalam konferensi pers di Banda Aceh, Senin (6/10/2025).
Barang bukti narkoba jenis sabu-sabu, heroin, dan ganja yang disita Polda Aceh selama operasi September 2025 ditampilkan dalam konferensi pers di Banda Aceh, Senin (6/10/2025). (Beritasatu.com/Wahyu Majiah)

Banda Aceh, Beritasatu.com - Polda Aceh berhasil menggagalkan peredaran narkoba dengan menyita 80,5 kilogram (kg) sabu-sabu, 1,3 ton ganja, dan 1 kg kokain dalam operasi selama September 2025. Sebanyak 22 tersangka ditangkap.

Kapolda Aceh Irjen Marzuki Ali Basyah mengatakan timnya melakukan penangkapan dan penggerebekan terkait narkoba di berbagai lokasi pada bulan lalu, seperti di Gampong (Desa) Lancok, Kecamatan Blang Mangat, dan Simpang Kramat, Kecamatan Geureudong Pase, Kabupaten Aceh Utara. Kemudian di Kota Lhokseumawe, Kabupaten Gayo Lues, dan Kota Sabang.

"Total barang bukti sabu mencapai 80,5 kilogram, ganja 1,3 ton, dan kokain 1 kilogram," ujar Marzuki dalam konferensi pers di Mapolda Aceh di Banda Aceh, Senin (6/10/2025).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, sebagian besar sabu yang disita berasal dari jaringan internasional ‘Golden Triangle’ yang melibatkan mafia dari Thailand, Myanmar, dan Vietnam. Para pelaku memanfaatkan pantai utara Aceh sebagai jalur penyelundupan ke Indonesia, khususnya melalui pelabuhan kecil atau jalur tikus.

Sementara itu, temuan yang cukup mengejutkan adalah 1 kg kokain yang ditemukan di kawasan mangrove Kota Sabang. Kokain tersebut diduga hanyut dari kapal jaringan narkotika internasional.

"Kokain itu terombang-ambing di area Mangrove dan kita amankan," ujar mantan kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Aceh ini. 

Marzuki menambahkan kokain memiliki harga lebih mahal dibandingkan sabu-sabu dan ganja. Pemakaian heroin di Indonesia juga masih minim. Selama ini, narkoba jenis ini diduga sasaran konsumsinya adalah orang asing yang tinggal di beberapa pulau di Indonesia.

Dalam pengungkapan ini, barang bukti ganja terbesar, yakni 1.200 kg dari total 1,3 ton, berasal dari Gayo Lues.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Gayo Lues Suhaidi yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan pemerintah daerah terus menjalankan program grand design alternative development (GDAD) bersama BNN. 

"Program ini berupaya mengalihkan kebiasaan masyarakat yang bergantungan dengan ganja dialihkan kepada komoditi lain yang produktif untuk menyejahterakan masyarakat," tutur Suhaidi. 

Ia berharap dengan membaiknya kondisi ekonomi masyarakat Gayo Lues, secara perlahan ketergantungan pada ganja akan ditinggalkan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon