ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sikundo Aceh Barat Masih Terisolasi, Bantuan Harus Dikirim via Udara

Jumat, 2 Januari 2026 | 06:41 WIB
SM
SM
Penulis: Salman Mardira | Editor: SMR
Warga korban banjir di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat menunggu distribusi bahan pokok dari pemerintah melalui helikopter yang dikirim ke kawasan pedalaman setempat, Kamis (1/1/2026).
Warga korban banjir di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat menunggu distribusi bahan pokok dari pemerintah melalui helikopter yang dikirim ke kawasan pedalaman setempat, Kamis (1/1/2026). (Antara/BPBD Aceh Barat)

Meulaboh, Beritasatu.com – Gampong (Desa) Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat masih terisolasi setelah diterjang banjir bandang pada bulan lalu. Akses jalan yang terputus membuat warga terkurung dan hidup dalam segala keterbatasan.

Pemerintah mengirimkan bantuan logistik makanan dan bahan kebutuhan pokok kepada masyarakat Sikundo menggunakan helikopter.

“Bantuan ini disalurkan melalui udara karena akses jalan ke kawasan Sikundo masih terputus dan masih dilakukan perbaikan,” kata Pelaksana Tugas Kepala BPBD Aceh Barat Teuku Ronal dikutip dari Antara, Jumat (2/1/2026).

ADVERTISEMENT

Distribusi bantuan melalui udara, di antaranya berupa 125 kilogram beras, sembako paket BNPB 15 kotak, serta satu mesin genset.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat juga telah mengirimkan bantuan logistik kepada masyarakat di kawasan Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, yang terisolasi akibat banjir bandang.

Bupati Aceh Barat Tarmizi mengatakan 40 kepala keluarga di kawasan pedalaman Komunitas Adat Terpencil (KAT) Sikundo hingga saat ini masih terisolasi akibat banjir bandang, pekan lalu.

“Kondisi masyarakat komunitas adat terpencil Sikundo saat ini sangat memprihatinkan, mereka tidak bisa keluar dari desa karena akses jalan rusak parah dan telah berubah menjadi aliran sungai,” katanya.

Ia mengatakan masyarakat kawasan tersebut hampir sepekan terisolasi, setelah jalan sepanjang 5 kilometer hancur akibat banjir bandang.

“Badan jalan yang ada sudah menjadi sungai dan jembatan penghubung juga terputus, masyarakat di sana benar-benar terisolasi dari dunia luar,” katanya.

Apabila mereka ingin keluar dari desa, katanya, hanya kepala desa dan dua masyarakat yang berani keluar menyusuri aliran sungai menggunakan ban bekas sejauh 5 kilometer.

Selain berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa, katanya, kondisi tersebut membuat masyarakat semakin khawatir karena semua akses ke kawasan komunitas adat itu putus total.

Selain itu, seratusan masyarakat kawasan tersebut saat ini kekurangan pasokan bahan makanan dan obat-obatan.

Ia mengatakan satu jembatan gantung yang dahulu dibangun setelah viral anak-anak sekolah menyeberangi sungai lewat kabel baja pada 2019, kini hanyut terbawa banjir.

“Saat ini, untuk menyeberangi sungai, tidak tersedia perahu atau sampan. Warga terpaksa menggunakan ban mobil sebagai alat bantu,” katanya.

Tarmizi mengatakan akses menuju Sikundo harus dilalui dengan menerobos hutan menggunakan mobil 4x4 dikemudikan para sopir off-road yang andal.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon