Fenomena Sinkhole Gunungkidul dan Sumbar, Ini Tanda Bahayanya
Sabtu, 21 Februari 2026 | 12:27 WIB
Wonosari, Beritasatu.com - Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan kembali menghebohkan warga setelah muncul di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebelumnya, kejadian serupa juga terjadi di Sumatera Barat pascabencana longsor dan banjir bandang.
Di Kabupaten Gunungkidul, sinkhole pertama dilaporkan muncul pada 7 Januari 2026 di halaman rumah warga dengan ukuran sekitar 2 x 5 meter dan kedalaman 4 meter. Beberapa hari kemudian, lubang runtuhan kedua muncul di lahan pertanian yang berjarak sekitar 12 kilometer dari lokasi pertama, berukuran 3 x 4 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter.
Kemunculan sinkhole ini diduga berkaitan dengan karakter geologi Gunungkidul yang berada di kawasan pegunungan karst, wilayah yang rentan terhadap pelarutan batuan bawah tanah.
Guru Besar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada, Prof Wahyu Wilopo, menjelaskan sinkhole merupakan fenomena runtuhan tanah secara vertikal yang membentuk lubang dengan kedalaman bervariasi.
Menurutnya, proses ini bisa terjadi secara alami, tetapi dipercepat oleh aktivitas manusia maupun faktor cuaca ekstrem. “Sinkhole merupakan proses alami yang dapat dipercepat oleh aktivitas manusia dan faktor alam. Hampir semua fenomena sinkhole yang muncul dipicu oleh curah hujan tinggi,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Curah hujan tinggi mempercepat pelarutan batuan di bawah permukaan tanah, terutama pada wilayah karst. Rongga yang terbentuk di bawah tanah lama-kelamaan tidak mampu menahan beban di atasnya sehingga terjadi runtuhan.
Wahyu menambahkan, sekitar 8% daratan Indonesia merupakan kawasan karst sehingga sejumlah daerah memang memiliki potensi kerentanan terhadap fenomena ini. Pakar UGM tersebut memaparkan sejumlah tanda awal yang harus diwaspadai masyarakat, terutama saat musim penghujan:
1. Muncul retakan tanah dengan pola membulat, setengah lingkaran, atau seperempat lingkaran.
2. Permukaan tanah terlihat turun dibandingkan area sekitarnya. Saat hujan, air cenderung menggenang di satu lokasi tertentu.
3. Muncul lubang-lubang kecil yang berpotensi membesar seiring waktu.
Apabila tanda-tanda tersebut ditemukan, masyarakat diminta segera melapor kepada pihak berwenang dan tidak mendekati lokasi demi keselamatan.
Dalam skala besar, sinkhole dapat mengubah topografi wilayah, merusak ekosistem flora dan fauna, hingga mencemari air tanah dan memicu erosi. Bagi manusia, risiko paling nyata adalah ancaman keselamatan dan potensi relokasi permukiman jika runtuhan terjadi di kawasan hunian.
Wahyu mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan, khususnya pada musim hujan, dengan melakukan pemantauan lingkungan secara berkala setelah hujan deras. Langkah dini ini dinilai penting untuk mendeteksi potensi sinkhole maupun bencana hidrometeorologi lainnya sebelum menimbulkan dampak yang lebih besar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




