ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kisah Korban Banjir Pidie Jaya Merajut Asa Berjualan Takjil di Huntara

Rabu, 4 Maret 2026 | 03:44 WIB
WM
SM
Penulis: Wahyu Majiah | Editor: SMR
Reni (47) saat menjaga warung kecil di unit hunian sementara, Danantara kompleks Kantor Bupati Pidie Jaya, Senin 2 Maret 2026.
Reni (47) saat menjaga warung kecil di unit hunian sementara, Danantara kompleks Kantor Bupati Pidie Jaya, Senin 2 Maret 2026. (Beritasatu.com/Wahyu Majiah)

Meureudu, Beritasatu.com - Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Dari dapur umum hunian sementara (Huntara) korban banjir bandang di kompleks Kantor Bupati Pidie Jaya, Aceh, aroma gurih dari masakan mulai menyeruak. Reni (47) tidak sedang bersantai menunggu waktu berbuka. Tangannya yang cekatan sibuk mengadon tepung, membentuk risol, dan mengisi tahu untuk digoreng.

Bagi Reni, Ramadan sekadar menjalankan ibadah. Hari-hari Reni bagikan medan tempur untuk menyambung hidup yang sempat terputus oleh bencana. 

Tragedi itu masih segar di ingatan, pada 26 November 2025. Banjir bandang menerjang, menyapu bersih rumah dan kendaraan milik keluarganya. Hidup Reni berubah 180 derajat dalam semalam, tanpa atap untuk berteduh, ia terpaksa mengungsi tinggal berbulan-bulan di gedung serbaguna Kantor Bupati Pidie Jaya hingga akhirnya menempati Huntara tepat sebelum Ramadan 2026 tiba. 

ADVERTISEMENT

"Rumah tidak ada lagi, kendaraan tidak ada. Kalau kita tidak cari uang, sama siapa kita berharap?" ujar Reni sembari menggoreng takjil di dapur umum huntara Pidie Jaya, Senin (2/3/2026). 

Di tengah keputusasaan, ia memilih satu jalan bangkit dan tak ingin terus berlarut-larut dalam kehilangan. Tanpa modal sepeser pun, Reni meminjam Rp 200.000 dari seorang kawan. 

Modal "utang" itulah yang ia putar menjadi tepung dan bumbu. Saat awal mumulai usaha itu, sebuah kompor bantuan pemerintah dan tabung gas pinjaman yang kini ia jaga layaknya harta karun bagi Reni. 

Langkah Reni tak selamanya mulus. Saat pertama kali pindah ke Huntara, ia sempat dicibir tetangga. Mereka khawatir aktivitas memasaknya memicu kebakaran di pemukiman darurat tersebut. Sempat terpukul dan berhenti, Reni sadar bahwa perut anak-anaknya tidak bisa menunggu.

"Saat itu dapur umum huntara belum dibuka, jadi masaknya masih di dalam unit huntara, 2 hari setelah tinggal di sini baru dibuka," tambahnya.

Setelah sempat berhenti memutar otak. Untuk menambah modal, ia terpaksa menjual beras bantuan setelah mendapat izin dari geusyik (kepala desa) setempat. Bahkan, perlengkapan mandi seperti sampo dan sabun sisa bantuan yang berlebih pun ia pajang untuk dijual.

"Pokoknya modal nekat saja. Alhamdulillah, rezeki itu pasti ada dan tidak tertukar," ucapnya penuh keyakinan.

Kini, Reni adalah satu-satunya penjual takjil di kompleks huntara tersebut. Menu buatannya mulai dari risol, tahu goreng, timpan, hingga bakso goreng yang menjadi primadona bagi sesama pengungsi maupun pembeli dari luar kompleks.

Dalam perjuangannya, Reni tidak sendiri. Dua putri ikut menjadi asisten setia. Mereka bergantian membantu mengadon kue atau duduk menjaga warung kecil bersebelahan dengan ranjang tidurnya di unit huntara mereka yang sempit.

Berbagai kopi saset dan jajanan untuk dijual, Reni menggantungnya di jendela unit B 15 Huntara, sabun cair saset dan sampo di gantung di pembuatan dipan tidur. Sedangkan takjil dan jajanan lain ditata rapi di atas meja kecil dekat jendela. 

Bagi Reni dan keluarga kecilnya, Ramadan membawa berkah tersendiri. Meski hasilnya belum cukup untuk ditabung dalam jumlah besar, setidaknya asap dapur tetap mengepul dan kebutuhan Hari Raya Idulfitri mulai terbayang titik terangnya.

"Hasilnya cukup untuk bertahan sehari-hari dan jajan anak. Apalagi mau Lebaran, kebutuhan pasti lebih banyak," kata Reni.

Hingga saat ini, dari balik dinding tipis hunian sementara, ia membuktikan bahwa meski rumah telah rata dengan tanah, semangat untuk berdiri di atas kaki sendiri tidak boleh ikut terkubur. Bagi Reni, setiap takjil dan dagangannya yang terjual adalah satu langkah lebih dekat menuju masa depan yang lebih layak bagi keluarganya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

268 Keluarga Korban Banjir Bandang Nagan Raya Tempati Hunian Sementara

268 Keluarga Korban Banjir Bandang Nagan Raya Tempati Hunian Sementara

NUSANTARA
Jelang Ramadan, Pemerintah Aceh Kebut Pindahkan Pengungsi ke Huntara

Jelang Ramadan, Pemerintah Aceh Kebut Pindahkan Pengungsi ke Huntara

NUSANTARA
BNPB: Korban Meninggal Bencana Sumatera 1.189 Orang, 141 Masih Hilang

BNPB: Korban Meninggal Bencana Sumatera 1.189 Orang, 141 Masih Hilang

NASIONAL
1.788 Ton Bantuan Logistik Sudah Disalurkan ke Korban Bencana di Aceh

1.788 Ton Bantuan Logistik Sudah Disalurkan ke Korban Bencana di Aceh

NUSANTARA
3.284 Korban Bencana di Aceh Terserang ISPA dan Peradangan Kulit

3.284 Korban Bencana di Aceh Terserang ISPA dan Peradangan Kulit

NUSANTARA
Pulihkan Listrik Desa Terdampak Banjir Aceh, Bahlil Kirim 1.000 Genset

Pulihkan Listrik Desa Terdampak Banjir Aceh, Bahlil Kirim 1.000 Genset

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT