Epidemiolog: Penyintas Covid-19 Butuh Program Rehabilitasi
Jumat, 25 Juni 2021 | 15:53 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman, menyarankan pemerintah menyiapkan program rehabilitas untuk penyintas Covid-19.
Menurutnya, setelah pasien dinyatakan pulih tidak serta merta sembuh total, tetapi banyak mengalami long Covid-19. Bahkan, di Inggris ada 500.000 kasus long Covid-19 dengan berbagai gejala. Ada yang sifat menetap dan hilang-timbul, sehingga harus menjadi perhatian serius untuk penanganan long Covid-19.
"Ini harus dicegah, oleh karena itu fasilitas kesehatan mulai dari level puskesmas harus menyusun program rehabilitas kesehatan karena jumlah yang pulih dalam tanda kutip itu banyak," kata Dicky saat dihubungi Beritasatu.com, Jumat (25/6/2021).
Dikcy menyebutkan, selayaknya virus lainnya yang sudah terjadi 100 tahun yang lalu, ketika pandemi selesai tidak serta merta selesai semua permasalahan. Dalam hal ini, perlu adanya upaya untuk mencegah dampak jangka panjang kesehatan. Pasalnya, ketika pasien dinyatakan negatif Covid-19 dan pulih, ternyata tidak pulih seutuhnya, ada dampak bisa muncul belakangan.
"Harus mulai direspons dengan adanya program rehabilitasi sehingga ada alur untuk konsultasi awal dan seharusnya mendata ini harus dilakukan. Sehingga para penyintas ini punya wadah komunikasi untuk konsultasi," ucapnya.
Dikcy menyebutkan, perlu antisipasi sejak dini karena dampak jangka panjang bukan sekedar Long Covid-19 yang disebut hanya beberapa bulan, tetapi yang berpotensi menurunkan sumber daya manusia (SDM) karena menurun kualitas kesehatannya.
Oleh karena itu, Dikcy mendorong prinsip mencegah lebih baik daripada terinfeksi Covid-19 harus dijaga dan dijadikan tujuan. "Jadi bukan angka recovery yang diajukan. Makin banyak recovery makin banyak yang terinfeksi. Itu salah kaprah. Sejak awal saya tidak setuju," ucapnya.
Dikcy menjelaskan, di negara maju penanganan long Covid-19 memiliki data yang jelas. Hal ini untuk mengantisipasi potensi masalah yang serius di masa depan.
"Ini menunjukan adanya kasus-kasus Covid-19 yang lama tidak sembuh. Bahkan sampai berbulan-bulan bahkan setahun lebih juga ada menetap dan semakin banyak kasusnya," kata Dicky.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




