Ingat! Jangan Tanyakan 5 Hal Ini ke Chatbot AI
Minggu, 20 Juli 2025 | 20:17 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. ChatGPT, sebagai chatbot AI terpopuler, bahkan menjadi situs kelima yang paling banyak dikunjungi di dunia pada Juni 2025.
Penggunaan chatbot AI kini semakin meluas, mulai dari menjadi teman ngobrol, tutor, peracik resep, hingga “terapis”. Sebuah studi dari Harvard Business Review menyebutkan bahwa alasan utama orang menggunakan ChatGPT pada 2025 adalah untuk terapi. Disusul untuk manajemen waktu, menemukan tujuan hidup, pembelajaran, membuat kode, hingga mencari ide.
Namun, meski tampaknya aman, tidak semua pertanyaan sebaiknya diajukan ke chatbot AI. Laporan Washington Post baru-baru ini mengungkapkan bahwa banyak orang bertanya ke ChatGPT apakah mereka cukup menarik secara fisik. Sementara itu, penelitian lain menunjukkan bahwa terlalu mengandalkan AI bisa berdampak negatif pada kognisi manusia.
Demi keamanan dan kesehatan mental, berikut adalah lima jenis pertanyaan yang sebaiknya tidak ditanyakan ke chatbot AI, seperti dilansir dari Mashable, Minggu (20/7/2025).
1. Teori Konspirasi
Chatbot seperti ChatGPT, Gemini, dan lainnya diketahui memiliki kecenderungan untuk “berhalusinasi”, yakni menyampaikan informasi yang salah atau direkayasa. Saat ditanya tentang teori konspirasi, chatbot bisa menyajikan informasi yang dilebih-lebihkan atau keliru untuk menjaga minat pengguna.
Sebuah laporan New York Times menceritakan kisah Eugene Torres (42), yang terjebak dalam pemikiran konspiratif setelah sering berbicara dengan ChatGPT. Ia sampai percaya bahwa hidup adalah simulasi dan ia dipilih untuk “terbangun”. Banyak pengguna lain mengaku mengalami hal serupa.
2. Cara Berbuat Kejahatan
Seorang blogger AI sempat berbagi pengalaman buruknya saat bertanya ke ChatGPT tentang cara meretas situs, membuat lokasi GPS palsu, dan yang paling fatal cara membuat bom. Ia langsung menerima peringatan dari OpenAI. Meski sekadar penasaran, bertanya tentang hal tersebut bisa berdampak serius.
3. Pertanyaan yang Dianggap Sangat Amoral
Claude, chatbot AI milik Anthropic, dilaporkan pernah mencoba melaporkan penggunanya ke media dan penegak hukum akarena mendeteksi pertanyaan yang sangat tidak bermoral. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa bertanya hal-hal yang dianggap amoral oleh sistem AI, bisa memunculkan risiko yang tidak disadari pengguna. Chatbot AI, yang dirancang untuk mencegah penyalahgunaan, bisa saja mengambil langkah-langkah yang tidak diharapkan.
4. Diagnosis Medis
Meskipun chatbot AI bisa memberi informasi medis secara cepat, mengandalkannya untuk diagnosis bisa menyesatkan. Berbagai studi menyebutkan bahwa ChatGPT memiliki risiko tinggi menyebarkan informasi medis yang keliru.
5. Dukungan Psikologis atau Terapi
Meski banyak orang merasa terbantu oleh terapi AI karena biaya lebih terjangkau, penggunaannya masih menuai perdebatan. Studi dari Dartmouth College menunjukkan bahwa terapi dengan chatbot bisa menurunkan gejala depresi hingga 51% dan kecemasan sebesar 31%. Namun, tidak semua chatbot dirancang untuk menangani masalah psikologis secara tepat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




