Ambisi Baterai Solid-State BYD Tersendat Masalah Teknis
Kamis, 9 April 2026 | 10:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Perusahaan otomotif China BYD, melalui ilmuwan kepalanya, Lian Yubo, memberikan kabar terbaru mengenai perkembangan teknologi baterai masa depan. Lian menyatakan bahwa teknologi baterai solid-state kini telah memasuki "tahap terobosan kritis". Meski begitu, ia menekankan bahwa komersialisasi secara massal masih terhalang oleh berbagai hambatan teknis dan industri yang cukup kompleks.
Dalam sebuah seminar kebijakan otomotif di Tiongkok, yang dikutip Carnewschina, Kamis (9/4/2026), Lian menjelaskan bahwa transisi dari produksi skala kecil ke pemasangan di kendaraan secara massal masih menghadapi tantangan besar. Masalah utamanya terletak pada kompleksitas rekayasa, pengendalian biaya produksi, dan tingkat keberhasilan produk atau yield. Tanpa efisiensi di aspek-aspek tersebut, baterai canggih ini akan sulit dipasarkan dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat luas.
Di tingkat material, Lian mengidentifikasi dua masalah teknis utama yang menjadi penghambat kemajuan, yaitu stabilitas antarmuka antara material padat dan penekanan dendrit litium, semacam pertumbuhan kristal tajam yang bisa merusak baterai dari dalam.
“Jika kedua masalah ini tidak segera diatasi, performa dan keamanan baterai solid-state tidak akan mencapai standar yang diharapkan untuk penggunaan harian,” tulis Carnewschina.
Menariknya, Lian memperkenalkan kerangka pengembangan sistem baru yang menghubungkan kebutuhan pengguna langsung dengan desain baterai. Menurutnya, industri otomotif tidak boleh hanya fokus pada perbaikan material semata. Sebaliknya, harus ada alur logika yang dimulai dari kebutuhan pengguna, target performa kendaraan, persyaratan sistem, hingga akhirnya ke desain sel baterai itu sendiri agar produk yang dihasilkan benar-benar tepat sasaran.
Pendekatan ini menuntut produsen mobil untuk terlibat langsung dalam menentukan spesifikasi sel baterai. Hal-hal penting seperti jarak tempuh, masa pakai baterai, kecepatan pengisian daya, serta keamanan harus diterjemahkan ke dalam target sistem yang terukur. Ini termasuk manajemen suhu yang baik dan ketahanan mekanis, sehingga baterai tidak hanya canggih di atas kertas, tetapi juga tangguh saat digunakan di jalan raya.
Meski teknologi solid-state sedang naik daun, BYD menegaskan bahwa ini bukan satu-satunya jalan. Lian mencatat bahwa teknologi baterai litium-ion cair yang kita gunakan saat ini akan terus berkembang dalam hal kepadatan energi dan adaptasi lingkungan. Ke depannya, berbagai jenis kimia baterai akan hidup berdampingan tergantung pada segmen kendaraan dan kebutuhan biaya konsumen.
Sebagai bukti nyata dari strategi paralel ini, BYD tengah menyiapkan baterai solid-state berbasis sulfida untuk produksi terbatas pada tahun 2027. Di sisi lain, mereka juga mengembangkan baterai natrium-ion (sodium-ion) yang lebih murah dengan masa pakai hingga 10.000 siklus pengisian. Tak ketinggalan, BYD terus menyempurnakan teknologi andalannya, Blade Battery 2.0, yang mampu mengisi daya dari 10% ke 70% hanya dalam waktu sekitar 5 menit.
Langkah BYD ini muncul di tengah dinamika pasar yang sangat fluktuatif. Setelah penjualan domestik mencapai puncaknya di angka 320.000 unit pada Oktober 2025, angka tersebut sempat anjlok ke 50.000 unit pada Januari 2026. Dengan target produksi massal baterai solid-state yang diprediksi baru akan meluas pada dekade berikutnya, BYD berupaya tetap relevan dengan terus berinovasi pada teknologi yang sudah ada sambil perlahan mematangkan teknologi masa depan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




