ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sukses Bersama Como, Kenapa Fabregas Layak Tangani Klub Besar Eropa?

Senin, 23 Februari 2026 | 10:30 WIB
MN
MF
Penulis: Muhamad Refan Nibrasy | Editor: MF
Cesc Fabregas.
Cesc Fabregas. (AP Photo/Fabio Ferrari)

Jakarta, Beritasatu.com - Cesc Fabregas kini menjadi salah satu nama yang paling banyak diperbincangkan dalam lingkaran pelatih elite Eropa.

Dalam waktu relatif singkat, ia berhasil membangun reputasi sebagai pelatih progresif bersama Como 1907 di Serie A. Namanya bahkan mulai dikaitkan dengan sejumlah klub papan atas, termasuk sebagai kandidat potensial penerus Pep Guardiola di Manchester City.

Perjalanan Fabregas dari mantan gelandang kelas dunia menjadi pelatih dengan filosofi matang bukanlah kebetulan. 

Kombinasi kecerdasan taktik, dukungan struktural klub, keberanian dalam pengambilan keputusan, serta kemampuan membangun identitas tim menjadi fondasi utama yang membuatnya bersinar saat ini. 

ADVERTISEMENT

Berikut faktor-faktor utama yang menjelaskan mengapa namanya semakin diperhitungkan pada level tertinggi: 

Perencanaan Jangka Panjang dan Momentum yang Tepat

Munculnya nama Fabregas dalam radar klub-klub besar Eropa terjadi di tengah perencanaan suksesi jangka panjang sejumlah raksasa, termasuk Manchester City yang mempersiapkan masa depan setelah kontrak Guardiola berakhir pada 2027.

Sejumlah pelatih lain seperti Vincent Kompany dan Andoni Iraola juga masuk dalam pemantauan, tetapi profil Fabregas menawarkan daya tarik berbeda. 

Ia dipandang sebagai sosok yang memiliki kedekatan filosofis dengan Guardiola sejak keduanya bekerja sama di FC Barcelona.

Kesamaan prinsip permainan menyerang dan pendekatan positional play membuatnya dinilai selaras dengan fondasi taktik yang ingin dipertahankan klub-klub modern.

Meski masih relatif awal dalam karier manajerial, Fabregas kerap dianggap sebagai opsi purist, yakni pelatih dengan potensi besar, berakar pada sekolah taktik elite, tetapi tetap membawa sentuhan personal.

Musim Menakjubkan Bersama Como

Salah satu faktor terkuat yang mengangkat reputasi Fabregas adalah lonjakan performa Como. Dalam tujuh musim, klub ini bangkit dari kasta keempat hingga kembali ke Serie A.

Pada musim 2024/2025, sebagai musim penuh pertama Fabregas sebagai pelatih permanen, mereka finis pada posisi 10, capaian tertinggi dalam sejarah klub.

Padahal sebelum musim tersebut dimulai, banyak prediksi menyebut Como berpeluang besar terdegradasi. Proyeksi statistik bahkan memberi kemungkinan hampir separuh untuk turun kasta. Namun hasil di lapangan berbicara sebaliknya.

Tidak hanya bertahan, Como tampil kompetitif dan sempat mendekati zona kompetisi Eropa. Saat ini mereka bahkan duduk di posisi keenam klasemen dan tengah bersaing untuk tiket Eropa, membuktikan bahwa keberhasilan sebelumnya bukan sekadar kejutan sesaat.

Keberhasilan ini tidak hanya berbasis belanja besar, tetapi pada proses terstruktur, kesabaran, dan kesatuan visi antara pelatih dan manajemen.

Dukungan Finansial dan Kepercayaan Penuh Manajemen

Dukungan finansial dari pemilik klub memainkan peran penting. Sejak diakuisisi pada 2019 oleh Grup Djarum yang dipimpin Robert dan Michael Hartono, Como menjadi salah satu klub dengan pemilik terkaya di Italia.

Sejak penunjukan Fabregas pada 2023, ia mendapat dukungan dana signifikan untuk membangun skuad. Namun yang lebih penting dari sekadar investasi adalah kepercayaan penuh yang diberikan kepadanya.

Ketika terjadi perbedaan pandangan di level manajemen, pemilik klub memilih menyelaraskan arah proyek dengan visi Fabregas. Keputusan tersebut menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap proyek sepak bola yang ia bangun, bukan sekadar pendekatan pragmatis jangka pendek.

Fabregas sendiri datang ke Como bukan hanya sebagai pemain pada awalnya, tetapi juga sebagai pemegang saham. Ia menegaskan bahwa motivasinya bukan semata finansial, melainkan ketertarikan terhadap proyek ambisius jangka panjang.

Revolusi Rekrutmen Pemain

Pada fase awal kebangkitan Como, klub sempat mendatangkan sejumlah pemain berpengalaman dan nama besar. Namun pendekatan tersebut tidak sepenuhnya efektif.

Evaluasi internal kemudian melahirkan perubahan strategi rekrutmen. Fokus beralih kepada pemain muda bertalenta, sering kali yang kurang mendapat tempat di klub sebelumnya, tetapi sesuai dengan filosofi permainan Fabregas.

Kedatangan pemain seperti Nico Paz, Maxime Perrone, Martin Baturina, hingga Jesus Rodriguez mencerminkan pendekatan yang lebih cerdas dan terarah. 

Paz menjadi sosok sentral dengan kontribusi gol dan assist signifikan, serta memimpin liga dalam sejumlah indikator kreativitas serangan.

Langkah menolak tawaran besar demi mempertahankan pemain kunci juga menunjukkan keseriusan proyek ini. Pendekatan tersebut membentuk skuad yang dinamis, berkembang, dan selaras secara taktik.

Identitas Taktik yang Jelas dan Fleksibel

Sebagai mantan pemain yang pernah dilatih Guardiola, Arsene Wenger, Jose Mourinho, Antonio Conte, dan Luis Enrique, Fabregas menyerap berbagai pendekatan taktik sepanjang kariernya.

Di Como, ia umumnya menerapkan struktur 4-2-3-1 dengan penekanan pada penguasaan bola. Rata-rata penguasaan bola timnya berada di atas 60 persen dan termasuk tiga besar tertinggi di Serie A pada periode tertentu.

Namun dominasi bola tidak membuat timnya tumpul. Como termasuk tim dengan jumlah through ball dan progressive pass tertinggi di liga. Serangan kerap dibangun melalui overload di tengah, rotasi pivot fleksibel, serta pergerakan penyerang dan gelandang serang di half-space.

Rotasi gelandang bertahan yang kadang turun melebar atau masuk di antara bek tengah memberi variasi dalam build-up. Di fase menyerang, kombinasi di area sentral menjadi kekuatan utama, sementara full-back aktif membantu menciptakan lebar permainan.

Pendekatan ini membuat Como mampu menembus blok pertahanan rendah maupun menghadapi tim dengan pressing agresif. Fabregas menegaskan bahwa ia ingin memiliki banyak solusi taktik agar tetap dominan menghadapi berbagai struktur lawan.

Pressing Agresif dan Mentalitas Kompetitif

Di luar penguasaan bola, Como juga menunjukkan intensitas tinggi tanpa bola. Dalam fase bertahan, mereka kerap membentuk 4-4-2 dengan gelandang serang naik sejajar penyerang untuk menekan.

Tim ini masuk jajaran teratas dalam metrik tekanan, intensitas duel, serta kombinasi tekel dan intersepsi. Alih-alih menunggu dan memotong jalur umpan, mereka lebih memilih bersaing langsung dan merebut bola secara agresif.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Fabregas bukan hanya pelatih idealis yang berorientasi pada estetika, tetapi juga memahami pentingnya keseimbangan antara dominasi dan intensitas.

Kepemimpinan, Pembelajaran, dan Kedewasaan

Seperti banyak pelatih muda lainnya, Fabregas juga melalui fase pembelajaran. Ia pernah mengakui perlu mengelola emosi lebih baik setelah kekalahan mengecewakan, serta bertanggung jawab atas kesalahan timnya.

Sikap reflektif ini menjadi nilai tambah. Ia tidak ragu mengevaluasi pendekatannya, bahkan kembali mempelajari pertandingan untuk memahami apa yang bisa diperbaiki.

Para pemain memuji kemampuannya menciptakan suasana nyaman sekaligus kompetitif. Ia tidak hanya mentransfer taktik, tetapi juga pengalaman sebagai mantan pemain elite yang pernah menjuarai Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa.

Daya Tarik bagi Klub Top Eropa

Dengan progres Como yang konsisten dan identitas permainan kuat, wajar jika Fabregas mulai dikaitkan dengan klub-klub besar. Ia dinilai cocok untuk lingkungan yang menuntut pembangunan jangka panjang dan pengembangan pemain muda.

Baik di Premier League maupun kompetisi elite Eropa, profilnya sesuai dengan kebutuhan klub yang menginginkan kesinambungan filosofi permainan menyerang berbasis penguasaan bola.

Meski demikian, ia memilih bertahan dan melanjutkan proyeknya, menunjukkan bahwa ia tidak tergesa-gesa mengambil langkah berikutnya.

Kesuksesan Fabregas sebagai pelatih tidak lahir secara instan. Ia merupakan hasil kombinasi visi jangka panjang, kecerdasan taktik, keberanian mengubah strategi rekrutmen, dukungan manajemen, serta kematangan pribadi dalam memimpin.

Dari tepi Danau Como hingga masuk dalam radar klub elite Eropa, perjalanan ini menunjukkan bahwa Fabregas bukan sekadar mantan bintang yang mencoba peruntungan di bangku cadangan. Ia sedang membangun fondasi kuat untuk karier manajerial pada level tertinggi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston

Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston

SPORT
Ravenna FC Dikabarkan Rekrut Ronaldinho yang Sudah Berusia 46 Tahun

Ravenna FC Dikabarkan Rekrut Ronaldinho yang Sudah Berusia 46 Tahun

SPORT
Jadwal Bola Malam Ini 20-21 Juni 2026: Belanda, Jerman, hingga Jepang

Jadwal Bola Malam Ini 20-21 Juni 2026: Belanda, Jerman, hingga Jepang

SPORT
Link Live Streaming Brasil vs Haiti pada Piala Dunia 2026 Hari Ini

Link Live Streaming Brasil vs Haiti pada Piala Dunia 2026 Hari Ini

SPORT
Tak Tergerus Usia, Ini 6 Pemain Umur 40 Tahun pada Piala Dunia 2026

Tak Tergerus Usia, Ini 6 Pemain Umur 40 Tahun pada Piala Dunia 2026

SPORT
Jadwal Bola Malam Ini, 19-20 Juni 2026: AS, Maroko, hingga Brasil

Jadwal Bola Malam Ini, 19-20 Juni 2026: AS, Maroko, hingga Brasil

SPORT

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon