ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Jalan Terjal Inter Milan Menjuarai Serie A 2025-2026

Senin, 4 Mei 2026 | 16:45 WIB
MN
MF
Penulis: Muhamad Refan Nibrasy | Editor: MF
Inter Milan juara Serie A 2025-2026.
Inter Milan juara Serie A 2025-2026. (AP Photo/Luca Bruno)

Jakarta, Beritasatu.com - Inter Milan berhasil menegaskan statusnya sebagai salah satu kekuatan terbesar sepak bola Italia setelah memastikan gelar Serie A musim 2025-2026.

Kepastian itu datang seusai kemenangan 2-0 atas Parma di Stadion Giuseppe Meazza, Senin (4/5/2026) dini hari WIB, hasil yang membuat Nerazzurri tidak lagi terkejar dalam perebutan Scudetto dengan tiga pertandingan tersisa.

Keberhasilan ini terasa spesial karena Inter bangkit dari musim penuh kekecewaan. Setelah gagal juara Serie A hanya karena selisih satu poin pada musim sebelumnya dan menelan kekalahan telak 0-5 dari Paris Saint-Germain di final Liga Champions, banyak pihak memprediksi siklus emas klub mulai berakhir.

ADVERTISEMENT

Namun di bawah pelatih baru Cristian Chivu, Inter justru mampu menjawab keraguan dengan cara yang meyakinkan. Scudetto ke-21 bukan sekadar tambahan trofi bagi Inter.

Gelar ini menjadi simbol keberhasilan proyek jangka panjang klub yang tetap stabil di tengah perubahan pelatih, tekanan besar, hingga persaingan ketat dari Napoli dan AC Milan.

Awal Manis Bagi Cristian Chivu meski Diragukan

Penunjukan Cristian Chivu pada musim panas 2025 sempat memunculkan tanda tanya besar. Inter baru saja mengalami salah satu malam terburuk dalam sejarah modern klub setelah dihancurkan PSG pada final Liga Champions, sementara Simone Inzaghi memilih menerima tawaran fantastis dari Al-Hilal.

Dalam situasi tersebut, manajemen sempat mencoba mendekati Cesc Fabregas. Namun setelah Como menolak membuka negosiasi, Inter memilih kembali kepada sosok yang sudah memahami DNA klub. Chivu bukan nama asing karena pernah membela Nerazzurri pada periode 2007 hingga 2014 dan menjadi bagian skuad treble winner era Jose Mourinho.

Pengalaman Chivu sebagai pelatih senior memang minim. Sebelum kembali ke Milan, ia hanya menangani Parma dalam 13 pertandingan Serie A. Karena itu, banyak pengamat memprediksi dirinya akan kesulitan menghadapi tekanan besar di klub sekelas Inter.

Awal musim bahkan sempat memperkuat keraguan tersebut setelah Inter kalah dalam dua dari tiga laga pertama Serie A. Namun perlahan, Chivu berhasil mengubah suasana tim yang sebelumnya masih dihantui trauma kekalahan di final Liga Champions. Ia mampu menjaga ruang ganti tetap solid sekaligus memulihkan mental pemain.

Kepercayaan itu akhirnya terbayar. Di musim penuh pertamanya sebagai pelatih Serie A, Chivu langsung mempersembahkan Scudetto dan menjadi pelatih non-Italia pertama yang menjuarai Serie A sejak Jose Mourinho pada musim 2009-2010.

Konsistensi Inter Jadi Kunci Dominasi Serie A

Keberhasilan Inter musim ini tidak lepas dari konsistensi proyek olahraga yang dibangun klub selama beberapa tahun terakhir. Saat banyak rival berganti identitas permainan dan terus melakukan pergantian pelatih, Inter tetap mempertahankan fondasi yang sama.

Dari Antonio Conte, Simone Inzaghi, hingga Cristian Chivu, Inter terus menggunakan dasar permainan 3-5-2. Pergantian pelatih memang membawa beberapa penyesuaian taktik, tetapi struktur utama tim tetap terjaga. Stabilitas ini membuat proses rekrutmen pemain menjadi jauh lebih efektif dibandingkan rival-rival mereka.

Inter juga mempertahankan tulang punggung skuad yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Nama-nama seperti Alessandro Bastoni, Nicolo Barella, Hakan Calhanoglu, Federico Dimarco, Denzel Dumfries, hingga Lautaro Martinez tetap menjadi inti permainan tim.

Secara statistik, dominasi Inter musim ini terlihat sangat jelas. Mereka mencetak lebih dari 80 gol di Serie A dan menjadi tim paling produktif di liga. Bahkan hanya Bayern Munchen dan Barcelona yang mampu mencetak gol lebih banyak dibandingkan Inter di lima liga top Eropa.

Produktivitas itu semakin impresif karena selisih gol Inter mencapai +51. Angka tersebut menunjukkan perbedaan kualitas yang cukup jauh dibandingkan pesaing lain di Serie A. Inter juga memenangkan 26 dari 35 pertandingan liga dan sempat mencatat 14 kemenangan dalam 15 laga saat memasuki paruh kedua musim.

Perubahan Taktik Chivu Bawa Dampak Positif

Meski tetap mempertahankan struktur dasar warisan era sebelumnya, Chivu membawa sejumlah perubahan penting dalam permainan Inter. Salah satu perbedaan paling terlihat adalah pendekatan rotasi pemain yang lebih fleksibel.

Pada era Simone Inzaghi, pergantian pemain kerap dianggap terlalu terjadwal. Chivu memilih pendekatan berbeda dengan lebih menyesuaikan kondisi pertandingan di lapangan. Dampaknya terasa pada beberapa pemain penting, terutama Federico Dimarco.

Dimarco mendapat menit bermain yang jauh lebih banyak dibandingkan musim-musim sebelumnya. Sang wing-back bahkan mengakui bahwa bermain lebih lama membuat kondisi fisiknya meningkat. Peran besarnya tercermin dari catatan 16 assist sepanjang musim, menjadikannya salah satu pemain paling berpengaruh di Serie A.

Di lini depan, Inter juga tampil lebih tajam. Lautaro Martinez dan Marcus Thuram tetap menjadi andalan utama dengan kontribusi besar terhadap gelar juara. Lautaro mencetak 16 gol dari 27 pertandingan liga, sementara Thuram menyumbang 13 gol, termasuk gol pembuka saat kemenangan penentu atas Parma.

Chivu juga sukses memaksimalkan kedalaman skuad. Yann Bonny dan Francesco Pio Esposito mendapat kepercayaan lebih besar sebagai pelapis lini serang. Pio Esposito bahkan menjadi salah satu kejutan musim ini dengan kontribusi sembilan gol dan enam assist di semua kompetisi.

Selain itu, gaya bermain Inter menjadi lebih vertikal. Chivu mendorong timnya untuk lebih cepat mengalirkan bola ke lini depan sehingga serangan menjadi lebih efektif. Perubahan itu membuat Inter tidak hanya dominan dalam penguasaan bola, tetapi juga jauh lebih berbahaya di area pertahanan lawan.

Bangkit dari Tekanan dan Menutup Musim dengan Gelar

Perjalanan Inter menuju Scudetto tidak sepenuhnya berjalan mulus. Mereka sempat mendapat sorotan tajam akibat performa kurang meyakinkan dalam laga-laga besar dan kegagalan di Liga Champions setelah disingkirkan klub Norwegia, Bodo/Glimt.

Di luar lapangan, Chivu juga harus menghadapi berbagai tekanan internal dan eksternal. Alessandro Bastoni sempat menjadi sasaran kritik setelah kontroversi kartu merah Pierre Kalulu dalam laga melawan Juventus. Situasi itu membuat Bastoni terus mendapat tekanan dari suporter lawan sepanjang musim.

Namun Inter berhasil menunjukkan mental juara. Ketika atmosfer di sekitar klub terasa berat pada musim semi, mereka justru memperlebar jarak di puncak klasemen. Kemenangan demi kemenangan membuat perebutan Scudetto perlahan mulai kehilangan dramanya sejak awal April 2026.

Momen penentuan akhirnya hadir saat menghadapi Parma. Marcus Thuram membuka skor pada masa injury time babak pertama setelah menerima umpan Piotr Zielinski, sebelum Henrikh Mkhitaryan memastikan kemenangan lewat gol pada menit ke-80 usai memanfaatkan assist Lautaro Martinez.

Statistik pertandingan memperlihatkan dominasi penuh Inter. Mereka mencatat 59% penguasaan bola, melepaskan 12 tembakan dengan lima tepat sasaran, serta menciptakan tiga peluang besar. Parma bahkan gagal mencatat satu pun tembakan tepat sasaran.

Gelar ke-21 ini membuat Inter kini unggul dua trofi atas rival sekota AC Milan dan semakin mengukuhkan diri sebagai klub tersukses kedua di Italia di bawah Juventus. Lebih dari itu, keberhasilan musim ini membuktikan bahwa Inter bukan hanya mampu bangkit dari keterpurukan, tetapi juga berhasil membangun fondasi kuat untuk mempertahankan dominasi mereka di sepak bola Italia.

Dengan peluang meraih Coppa Italia yang masih terbuka, musim Inter bahkan berpotensi ditutup dengan domestic double. Apa pun hasil akhirnya nanti, Scudetto ke-21 sudah menjadi bukti bahwa proyek Nerazzurri masih jauh dari kata selesai.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Maurizio Sarri Jadi Pelatih Ketiga Atalanta dalam Setahun Terakhir

Maurizio Sarri Jadi Pelatih Ketiga Atalanta dalam Setahun Terakhir

SPORT
Rafael Leao Ingin Tinggalkan AC Milan demi Tantangan Baru

Rafael Leao Ingin Tinggalkan AC Milan demi Tantangan Baru

SPORT
Allegri Sepakat Latih Napoli Seusai Tinggalkan AC Milan

Allegri Sepakat Latih Napoli Seusai Tinggalkan AC Milan

SPORT
Tinggalkan Napoli, Antonio Conte Akui Kegagalan Besar

Tinggalkan Napoli, Antonio Conte Akui Kegagalan Besar

SPORT
Torino vs Juventus, Bianconeri Wajib Menang demi Liga Champions

Torino vs Juventus, Bianconeri Wajib Menang demi Liga Champions

SPORT
Prediksi Inter vs Bologna: Ujian Terakhir Musim Chivu

Prediksi Inter vs Bologna: Ujian Terakhir Musim Chivu

SPORT

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon