FIFA Pusing Hak Siar Piala Dunia 2026 di China dan India Belum Laku
Selasa, 12 Mei 2026 | 19:40 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – FIFA menghadapi tantangan besar jelang Piala Dunia 2026 setelah hingga kini belum mencapai kesepakatan hak siar untuk dua pasar terbesar Asia, yakni China dan India. Padahal, turnamen yang akan berlangsung sebulan lagi itu akan menghadirkan 104 pertandingan dan menjadi edisi pertama dengan 48 peserta.
Saat FIFA memutuskan memperluas jumlah peserta Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim, organisasi tersebut berharap negara-negara dengan populasi besar seperti India dan China bisa lolos ke putaran final. Dengan total penduduk mencapai 2,7 miliar jiwa, kedua negara dinilai memiliki potensi pasar penonton yang sangat besar.
Namun hingga saat ini, belum ada kesepakatan penyiaran yang tercapai di kedua negara tersebut. Sebelumnya, FIFA disebut menawarkan hak siar Piala Dunia 2026 dan edisi berikutnya kepada India dengan nilai US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun.
Sementara untuk China, FIFA mematok harga antara US$ 250 juta hingga US$ 300 juta. Meski harga terus diturunkan, negosiasi masih menemui jalan buntu.
Di India, nilai penawaran hak siar Piala Dunia 2026 dilaporkan turun menjadi US$ 35 juta. Namun tawaran tertinggi baru mencapai US$ 20 juta dari JioStar.
Situasi ini cukup mengejutkan mengingat pada Piala Dunia 2014 dan 2018, Sony membayar hingga US$ 90 juta untuk hak siar. Sementara Viacom18 mengeluarkan US$ 62 juta untuk menayangkan Piala Dunia 2022 di Qatar.
Anggota Komite Eksekutif Asian Football Confederation sekaligus mantan Sekretaris Jenderal All India Football Federation, Shaji Prabhakaran, menilai perbedaan waktu pertandingan bukan alasan utama kegagalan tercapainya kesepakatan.
“Perbedaan waktu bisa dijadikan alasan. Pertandingan Piala Dunia berlangsung pada jam yang mirip dengan Liga Champions UEFA dan masyarakat India tetap menontonnya. Ini juga bukan pertama kalinya Piala Dunia digelar pada jam seperti ini dan India tetap menyaksikannya,” kata Prabhakaran, seperti dilansir dari The Guardian.
Menurut dia, masalah utama justru terletak pada minimnya persaingan di industri penyiaran olahraga India. Selain itu, penurunan jumlah penonton Liga Premier India (IPL) musim ini juga turut berpengaruh.
Menurunnya animo terhadap kompetisi domestik membuat stasiun televisi lebih berhati-hati mengeluarkan dana besar untuk sepak bola, terutama karena India tidak tampil pada Piala Dunia dan banyak pertandingan berlangsung larut malam.
“Tidak ada persaingan nyata di pasar penyiaran olahraga India, sehingga membuat FIFA lebih sulit. Dari pasar yang ada, kriket tetap menjadi olahraga utama dan fokus terbesar,” ujarnya.
Faktor lain adalah melemahnya nilai tukar rupee terhadap dolar AS. Pada 2013, kurs rupe berada di angka 54 per dolar AS, meningkat menjadi 78 pada 2022, dan kini mencapai sekitar 95 per dolar AS.
Sementara itu, China menjadi pasar yang jauh lebih penting bagi FIFA. Pada Piala Dunia 2022, China menyumbang 17,7% penonton televisi linear global dan hampir 50% penonton digital serta media sosial.
Media China melaporkan FIFA meminta nilai hak siar antara US$ 250 juta hingga US$ 300 juta. Namun CCTV, pemegang hak siar tradisional Piala Dunia di China, hanya memiliki anggaran sekitar US$ 60 juta hingga US$ 80 juta.
Bahkan setelah harga diturunkan menjadi sekitar US$ 120 juta hingga US$ 150 juta, angka tersebut masih dianggap terlalu tinggi. Perbedaan waktu dengan Amerika Serikat sebagai tuan rumah juga menjadi kendala karena Beijing terpaut 12 jam lebih cepat dari New York.
Selain itu, kegagalan tim nasional China lolos ke Piala Dunia turut memengaruhi minat penonton dan pengiklan. Meski begitu, banyak penggemar olahraga di China percaya kesepakatan tetap akan tercapai dalam waktu dekat.
FIFA bahkan disebut telah mengirim delegasi tingkat tinggi ke Beijing untuk mempercepat negosiasi. Prabhakaran memperkirakan kesepakatan di India kemungkinan baru tercapai dalam dua pekan ke depan.
“Selalu harus ada keseimbangan. Nilai sebuah produk harus tetap dijaga atau akan ada konsekuensinya,” kata Prabhakaran.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




