Segini Penghasilan Nelayan dari Ikan Sapu-sapu di Sungai Ciliwung
Jumat, 17 April 2026 | 13:45 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Ikan sapu-sapu menjadi fenomena tersendiri di Sungai Ciliwung, khususnya kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.
Pada satu sisi, ikan ini dianggap sebagai hama yang merusak ekosistem perairan. Namun Pada sisi lain, keberadaannya justru membuka peluang ekonomi bagi sebagian masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan harian.
Kondisi ini menghadirkan dinamika menarik antara upaya pengendalian populasi dan pemanfaatan ekonomi. Nelayan setempat tidak hanya berhadapan dengan tantangan lingkungan, tetapi juga ketidakpastian pendapatan yang bergantung pada kondisi sungai.
Nelayan di bantaran Sungai Ciliwung menilai bahwa upaya pemberantasan ikan sapu-sapu tidak dapat dilakukan secara tuntas. Salah satu penyebab utamanya adalah kemampuan berkembang biak ikan ini yang sangat tinggi.
"Memang bagus dibersihkan karena hama, tetapi enggak bakal bisa habis. Yang sudah biasa cari saja enggak bisa bersihin semuanya," kata nelayan ikan sapu-sapu Ajum (39), dikutip dari Antara, Jumat (17/4/2026).
Menurut Ajum, meskipun penangkapan dilakukan secara rutin, populasi ikan sapu-sapu tetap sulit ditekan. Hal ini disebabkan kemampuan reproduksi yang sangat cepat.
“Kembang biaknya cepat, satu ekor bisa sampai ribuan kalau menetas,” ucapnya.
Dengan kemampuan tersebut, populasi ikan sapu-sapu tetap bertahan meskipun ditangkap dalam jumlah besar setiap hari. Ajum bahkan mengibaratkan kondisi ini seperti pengendalian nyamuk yang tidak pernah benar-benar hilang.
"Seperti nyamuk, dibasmi tetap ada lagi," katanya.
Pada sisi lain, ikan ini juga memiliki nilai ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Bagi sebagian warga, ikan sapu-sapu menjadi sumber penghasilan alternatif.
“Yang penting jaga lingkungan tetap bersih, tetapi ikan ini juga ada manfaat ekonominya,” kata dia.
Dalam praktiknya, ikan sapu-sapu hasil tangkapan nelayan biasanya dijual kepada pengepul. Selanjutnya, ikan tersebut diolah menjadi berbagai produk makanan seperti cilok, nugget, otak-otak, hingga kerupuk.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun berstatus sebagai hama, ikan sapu-sapu tetap memiliki nilai jual yang mendukung ekonomi masyarakat sekitar.
Berapa Pendapatan Nelayan Ikan Sapu-sapu di Ciliwung?
Pendapatan nelayan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung sangat dipengaruhi oleh kondisi air, terutama saat musim hujan dan banjir.
“Kalau air lagi bagus bisa sampai 20 sampai 30 kilogram (kg), tetapi kalau banjir ya paling 10 kilo, kadang kita nahan dahulu karena berisiko,” kata Ajum.
Dalam kondisi normal, Ajum mengaku mampu menangkap sekitar 15 kilogram ikan sapu-sapu per hari. Namun ketika debit air meningkat, hasil tangkapan bisa turun menjadi sekitar 10 kilogram.
Harga ikan sapu-sapu saat ini berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 18.000 per kilogram. Dengan jumlah tangkapan tersebut, pendapatan harian nelayan bisa bervariasi tergantung kondisi lapangan.
Namun, tidak jarang hasil yang diperoleh hanya cukup untuk menutup biaya operasional.
“Kalau lagi boncos ya cuma buat ongkos jalan saja, sehari bisa habis Rp 100.000 sampai Rp 150.000,” ucapnya.
Untuk mendapatkan hasil tangkapan, Ajum biasanya menyusuri aliran sungai selama lima hingga enam jam, mulai dari sore hingga malam hari. Ia menggunakan ban sebagai alat bantu untuk mengapung mengikuti arus sungai.
Pekerjaan ini bukan tanpa risiko. Arus deras, benda hanyut seperti kayu dan sampah, hingga kondisi fisik yang harus prima menjadi tantangan tersendiri bagi nelayan.
Situasi tersebut membuat pekerjaan sebagai nelayan ikan sapu-sapu tidak hanya mengandalkan keterampilan, tetapi juga keberanian dan ketahanan fisik.
Rencana Pembersihan oleh Pemerintah
Sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan, Pemerintah Provinsi Jakarta berencana melakukan pembersihan sungai dan saluran air, termasuk penertiban ikan sapu-sapu.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat (17/4/2026) dan bertujuan untuk memperbaiki kondisi saluran air, mengeruk lumpur, serta mempersiapkan menghadapi musim hujan yang diperkirakan terjadi pada September 2026.
Ikan sapu-sapu dinilai berpotensi merusak tanggul serta memangsa ikan lain beserta telurnya, sehingga keberadaannya perlu dikendalikan.
Keberadaan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung menghadirkan dua sisi yang saling berkaitan, yakni sebagai hama sekaligus sumber penghasilan. Di tengah sulitnya pengendalian populasi, nelayan tetap memanfaatkan ikan ini untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




