ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

8 Negara Ini Jadikan Ikan Sapu-sapu sebagai Santapan, Simak Daftarnya!

Kamis, 30 April 2026 | 13:00 WIB
MF
MF
Penulis: Muhammad Firman | Editor: MF
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif dengan adaptasi luar biasa.
Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif dengan adaptasi luar biasa. (Beritasatu.com/Gemini AI)

Jakarta, Beritasatu.com - Ikan Sapu-sapu selama ini identik sebagai hama di berbagai perairan Indonesia. Ikan yang kerap terlihat menempel di dasar sungai ini bahkan sering dianggap mengganggu ekosistem.

Namun, situasi berbeda terjadi di beberapa negara lain. Di sejumlah wilayah dunia, ikan yang juga dikenal sebagai pleco justru dimanfaatkan sebagai bahan pangan oleh masyarakat lokal.

Berdasarkan berbagai kajian perikanan serta laporan lingkungan, konsumsi ikan sapu-sapu memang ada, meskipun skalanya terbatas dan bukan termasuk konsumsi utama secara global. Umumnya, ikan ini dikonsumsi di wilayah asalnya atau di daerah dengan populasi yang melimpah.

ADVERTISEMENT

Pada sisi lain, pleco secara internasional sering dikategorikan sebagai spesies invasif. Kemampuannya berkembang biak dengan cepat serta daya tahannya dalam kondisi ekstrem membuatnya berpotensi mengancam populasi ikan lokal.

Meski demikian, pemanfaatan ikan ini sebagai upaya pengendalian populasi tidak disarankan di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan kandungan logam berat berbahaya yang ditemukan pada ikan sapu-sapu, terutama di perairan tertentu seperti Sungai Ciliwung.

“Ada timbalnya, ada macam-macamnya, dan itu benar-benar berbahaya bagi manusia kalau dikonsumsi,” ujar Gubernur Jakarta Pramono Anung, di Balai Kota, Rabu (15/4/2026).

Berbeda dengan kondisi tersebut, di beberapa negara lain ikan ini justru memiliki nilai konsumsi. Lantas, negara mana saja yang mengonsumsi ikan ini?

Negara yang Warganya Konsumsi Ikan Sapu-sapu

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut daftar negara yang diketahui mengonsumsi ikan sapu-sapu:

1. Peru

Di kawasan Amazon Peru, ikan ini dikenal dengan nama carachama, bagian dari keluarga Loricariidae yang hidup di sungai dan rawa-rawa Amazon. Populasinya banyak ditemukan di wilayah Selva seperti Loreto, Ucayali, dan San Martín.

Di Loreto, carachama kerap diolah menjadi sup ikan seperti chilcano de pescado. Sementara itu, masyarakat Selva mengenal hidangan serupa dengan nama timbuche, yakni sup ikan air tawar khas Amazon yang dipadukan dengan rempah lokal seperti sacha culantro.

Sebagai ikan asli dari cekungan Amazon yang tersebar dari Brasil hingga Peru, carachama tidak hanya dianggap sebagai sumber pangan alternatif, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat setempat.

2. Brasil

Di Brasil, ikan sapu-sapu dikenal dengan berbagai nama lokal seperti bodó, acari-bodó, atau cascudo, tergantung pada wilayah dan jenisnya. Salah satu spesies yang cukup populer adalah Liposarcus pardalis atau bodó yang banyak diperjualbelikan di pasar ikan.

Di kawasan Amazon Brasil, ikan ini bukan sekadar spesies invasif atau ikan hias. Sebaliknya, bodó menjadi bagian dari sumber pangan lokal yang dimanfaatkan oleh masyarakat sehari-hari.

3. Ekuador

Di wilayah Amazon Ekuador, ikan ini juga dikenal sebagai carachama dan diolah menjadi maito de carachama. Hidangan ini dibuat dengan cara membungkus ikan menggunakan daun, kemudian dipanggang.

Kementerian Pariwisata Ekuador menyebut maito de carachama sebagai bagian dari kekayaan gastronomi di wilayah Archidona, Napo, dan sering disajikan kepada wisatawan.

Selain itu, Kementerian Kesehatan Ekuador memasukkan hidangan tersebut sebagai resep makanan khas masyarakat Kichwa Amazon. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi ikan sapu-sapu telah menjadi bagian dari praktik pangan tradisional, bukan sekadar eksperimen kuliner.

4. Kolombia

Di Kolombia, ikan dari keluarga Loricariidae dikenal sebagai cucha. Salah satu spesies yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah Chaetostoma vagum atau cucha trompiblandita yang berasal dari cekungan sungai Orteguaza di wilayah Caquetá dan Amazonas.

Permintaan konsumsi yang tinggi dari masyarakat Caquetá membuat ikan ini memiliki nilai komersial yang cukup besar. Dagingnya yang berwarna putih serta rasanya yang khas menjadi alasan utama ikan ini diminati.

5. Meksiko

Berbeda dengan negara-negara Amerika Selatan, konsumsi ikan sapu-sapu di Meksiko berkembang sebagai bentuk pemanfaatan spesies invasif. Ikan ini dikenal dengan nama pez diablo.

Dari sisi nutrisi, daging pez diablo termasuk ikan putih yang rendah lemak dan tinggi protein. Selain itu, kandungan logam berat serta senyawa organoklorin pada ikan ini dilaporkan berada di bawah ambang batas standar kesehatan di Meksiko.

6. Venezuela

Di Venezuela, ikan dari keluarga ini dikenal sebagai corroncho. Salah satu spesies yang dimanfaatkan adalah Chaetostoma pearsei yang dikenal sebagai corroncho del lago de Valencia.

Ikan ini digunakan sebagai bahan makanan lokal, terutama dalam hidangan sancocho. Selain itu, laporan FAO juga mencatat berbagai spesies Loricariidae seperti Ancistrus, Exastilithoxus, Lasiancistrus, Pseudoancistrus, dan Rineloricaria sebagai bagian dari konsumsi masyarakat di kawasan Amazon-Orinoco.

7. Filipina

Di Filipina, ikan sapu-sapu dikonsumsi di beberapa wilayah, terutama ketika populasinya meningkat di sungai tertentu. Meskipun tidak sepopuler ikan konsumsi utama seperti nila atau bangus, ikan ini tetap dimanfaatkan sebagai sumber pangan alternatif.

Selain itu, konsumsi tersebut juga dianggap sebagai salah satu cara untuk membantu mengendalikan penyebaran spesies invasif di perairan setempat.

8. India

Di India, konsumsi ikan sapu-sapu masih tergolong terbatas. Keberadaannya mulai dikenal sebagai ikan yang dapat dikonsumsi, terutama melalui pengaruh praktik kuliner dari Amerika Latin dan Meksiko.

Namun demikian, secara umum ikan ini masih lebih sering dipandang sebagai spesies invasif dibandingkan sebagai bahan pangan utama.

Fenomena konsumsi Ikan Sapu-sapu di berbagai negara menunjukkan adanya perbedaan cara pandang terhadap spesies ini. Pada satu sisi, ikan ini dianggap sebagai ancaman ekosistem di beberapa wilayah seperti Indonesia. Namun pada sisi lain, masyarakat di kawasan tertentu justru menjadikannya sebagai bagian dari tradisi kuliner atau sumber pangan alternatif.

Meski begitu, faktor keamanan pangan tetap menjadi pertimbangan utama sebelum mengonsumsi ikan sapu-sapu. Dengan memahami kondisi lingkungan serta kandungan pada ikan tersebut, masyarakat dapat menentukan langkah yang tepat dalam memanfaatkannya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Bahaya Dikonsumsi, Ikan Sapu-sapu Mengandung Protein dan Logam Berat

Bahaya Dikonsumsi, Ikan Sapu-sapu Mengandung Protein dan Logam Berat

JAKARTA
Dinas KPKP Pastikan Temuan Logam Berat pada Ikan Sapu-sapu di Jakarta

Dinas KPKP Pastikan Temuan Logam Berat pada Ikan Sapu-sapu di Jakarta

JAKARTA
Jaga Ekosistem Perairan, Pemkot Jakut Jaring 493 Kilogram Sapu-sapu

Jaga Ekosistem Perairan, Pemkot Jakut Jaring 493 Kilogram Sapu-sapu

JAKARTA
Satpol PP Temukan Pengolahan Ikan Sapu-sapu untuk Dijual ke Cikarang

Satpol PP Temukan Pengolahan Ikan Sapu-sapu untuk Dijual ke Cikarang

JAKARTA
217 Kilogram Ikan Sapu-sapu Ditangkap di Waduk Bojong Indah

217 Kilogram Ikan Sapu-sapu Ditangkap di Waduk Bojong Indah

JAKARTA
Amankah Mengonsumsi Ikan Sapu-sapu dari Sungai di Jakarta?

Amankah Mengonsumsi Ikan Sapu-sapu dari Sungai di Jakarta?

LIFESTYLE

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon