Window Dressing Tiba, IHSG Diprediksi Kembali Menguat
Minggu, 11 Desember 2022 | 17:27 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Fenomena window dressing (Windress) berpotensi mulai terlihat pada pekan ketiga bulan ini selepas bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed, mengumumkan kebijakan suku bunga acuan yang diekspektasikan tak lagi agresif. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pun diyakini bakal kembali menguat.
Direktur Equator Swarna Capital Hans Kwee mengatakan, window dressing baru kelihatan setelah pekan ini hingga minggu terakhir Desember 2022.
"Pasalnya, pada tanggal 13 Desember ada IHK Amerika naik tinggi akibat hiperinflasi. Lalu, 14 Desember ada kenaikan the Fed Fund Rate sekitar 50 bps. Setelah itu, pasar akan kembali rally ke level 6.900-7.000," jelas Hans Kwee, Minggu (11/12/2022).
Hans Kwee menjelaskan, arah sikap the Fed yang belum bisa ditebak ini parallel dengan data kenaikan non-farm payroll dan Purchasing Manager Index (PMI) non-manufacture.

Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di monitor ponsel.
Kedua data tersebut, lanjutnya, membuat pelaku pasar berpikir ulang mengenai kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang ternyata tidak tertekan pasca kenaikan suku bunga acuan the Fed. Padahal, bank sentral sebelumnya memperkirakan ekonomi US seharusnya terkoreksi dan masuk resesi untuk menekan inflasi.
"Jadi dua data tadi membuyarkan harapan sehingga pelaku pasar berpikir the Fed akan agresif menaikkan suku bunga. Ditambah, data Producer Price Index (PPI) yang naik lebih tinggi dari perkiraan yang menyebabkan bursa Wall Street turun," ujarnya.
Sementara dilihat dari sisi domestik, Hans mencermati tidak ada sentimen negatif yang signifikan kecuali dari saham teknologi yang diekspektasikan tren penurunannya segera berakhir seiring kebijakan the Fed yang diharapkan tidak lagi menaikkan suku bunga acuan secara agresif.
"Jadi saya perkirakan, window dressing kemungkinan enggak akan naik banyak karena pasar sedang tidak banyak katalis. Paling kuat 5%. Karena itu, IHSG sampai akhir tahun saya proyeksikan di level 6.950 sampai 7.000. Rasanya, berat kalau lebih dari 7000 karena di tingkat global terancam resesi walaupun dari data-data dalam negeri tidak ada masalah," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




