ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Meski Global Gelap, Pasar Obligasi Indonesia 2023 Bersinar

Rabu, 21 Desember 2022 | 05:19 WIB
M
WP
Penulis: Muawwan | Editor: WBP
Ilustrasi obligasi (surat utang)
Ilustrasi obligasi (surat utang) (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com– Pasar obligasi Indonesia pada tahun 2023 diprediksi bakal resilient atau tahan menangkal bayang-bayang gelap sentimen global. Kenaikan bond yield di Indonesia yang relatif kecil membuat kesempatan berinvestasi di pasar surat utang sangat terbuka atau masih bersinar.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunanto menyampaikan bahwa resiliensi pasar obligasi Indonesia didorong kemampuan pemerintah dalam mengendalikan inflasi yang terbilang lebih baik daripada negara-negara lain.

Alhasil, jika bond yield direlatifkan dengan inflasi di Indonesia, maka yang akan masuk menjadi positif sehingga support dari investor domestik masih akan tetap solid. Berbeda dengan bond yield di negara-negara lain yang cenderung mengalami negatif. "Inilah yang membedakan Indonesia dengan negara-negara lain," ucap Handy di acara Perkembangan Ekonomi Global dan Indonesia 4Q22, Selasa (20/12).

Aspek lain yang membuat pasar obligasi Indonesia tangguh adalah currency. Menurut Handy, Indonesia mendapat keuntungan dari harga komoditas dan berkurangnya ketergantungan pasar obligasi terhadap investor asing yang kini porsinya tinggal 14% sampai 15%. Makanya, gonjang-ganjing global tidak kemudian menghasilkan kenaikan bond yield yang signifikan di pasar obligasi dalam negeri.

ADVERTISEMENT

Dengan bond yield yang positif dan rupiah relatif stabil, kenaikan suku bunga BI rate pun tidak akan sama dengan kenaikan bond yield di negara-negara lain.

Sementara dilihat dari sisi global, kenaikan bond yield di tingkat global disebabkan oleh kenaikan suku bunga the Fed yang sangat agresif yang berujung pada kekhawatiran terhadap risiko utang.

"Jadi sejak terjadi Covid-19, beban utang baik di negara maju, berkembang, maupun negara-negara less developing countries mengalami kenaikan utang cukup tinggi. Inilah yang mengakibatkan kenaikan bond yield karena investor menghindari risiko untuk berinvestasi di negara-negara emerging market termasuk Indonesia," kata dia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Rupiah Terus Tertekan, Purbaya Terpantau Gelar Rapat Dadakan

Rupiah Terus Tertekan, Purbaya Terpantau Gelar Rapat Dadakan

EKONOMI
OJK dan ADB Perkuat Obligasi Berkelanjutan di Kawasan ASEAN+3

OJK dan ADB Perkuat Obligasi Berkelanjutan di Kawasan ASEAN+3

EKONOMI
Terbitkan Surat Utang Rp 2,5 T, Anak Usaha WIFI Alami Oversubscribed

Terbitkan Surat Utang Rp 2,5 T, Anak Usaha WIFI Alami Oversubscribed

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon