Wamenkeu: APBN Sukses Jadi Bantalan Kenaikan Harga Energi
Kamis, 12 Januari 2023 | 22:34 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara mengatakan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berhasil menjadi bantalan penahan gejolak atau shock absorber untuk tetap menjaga dan melindungi perekonomian dari dampak kenaikan harga energi.
Suahasil menegaskan, pemerintah mengalokasikan subsidi energi yang sangat besar di tahun lalu agar kenaikan harga komoditas energi tidak ditransmisikan secara langsung karena harga BBM di masyarakat masih ada subsidi dari pemerintah.
"Narasi selama ini, APBN kita sebagai shock absorber, di saat harga komoditas energi naik di tingkat global, ini tidak ditransmisikan langsung ke perubahan harga di domestik. Memang harga BBM bersubsidi tidak dijual dalam harga pasar seperti Pertamax. Tapi tidak apa apa, supaya masyarakat tetap bisa gunakan bahan bakar listrik dan dorong pemulihan, sehingga ekonomi tetap bergerak," kata Suahasil, dalam wawancara khusus dengan Investor Daily, Kamis (12/1/2023).
Suahasil menjelaskan, gejolak global turut menyelimuti ekonomi domestik di tahun lalu, mulai dari peningkatan harga energi dan pangan yang dipicu oleh permintaan global yang mulai pulih dan meningkat.
Kemudian, peningkatan tensi geopolitik Rusia-Ukraina yang turut memicu kenaikan inflasi. Gejolak ini pun dipicu pengetatan kebijakan moneter dan menaikkan suku bunga acuan di berbagai negara.
"Kenaikan suku bunga di beberapa negara cukup tinggi, jika terlalu cepat akan membuat dunia shrinking atau menyusut dan resesi," tegasnya.
Meski demikian, Suahasil menegaskan, naiknya harga komoditas juga memberikan berkah bagi penerimaan negara di sepanjang tahun 2022 yang mencapai Rp 2.626 triliun atau tumbuh 30,6 persen year on year (yoy).
Capaian ini terdiri dari penerimaan perpajakan Rp 2.034 triliun. Sementara itu, belanja negara berhasil terealisasikan Rp 3.090,8 triliun atau setara 99,5 persen dari target dalam Perpres Nomor 98/2022 sebesar Rp 3.106,4 triliun.
"Sisi belanja ketika tutup tahun 2022 meningkat, akhirnya bisa menurunkan defisit anggaran tadinya diperkirakan 4,85 persen terhadap PDB kemudian direvisi menjadi 4,5 persen terhadap PDB. Namun akhir tahun akhirnya defisit anggaran ditutup sangat rendah menjadi 2,38 persen terhadap PDB. Ini pencapaian luar biasa, artinya kita bisa gunakan momentum kenaikan harga komoditas di tingkat global untuk dapatkan penerimaan," tandas Suahasil.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




