Kejatuhan SVB Mengajarkan Perbankan Nasional Pentingnya Kepercayaan Nasabah
Minggu, 9 April 2023 | 09:14 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB) menimbulkan kewaspadaan industri perbankan nasional untuk menjaga kepercayaan para investor dan nasabah. Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) menyebutkan, bank-bank di Amerika Serikat (AS) mengalami kerugian yang belum direalisasi (unrealized loss) – atau aset yang harganya turun, tetapi belum dijual pada akhir 2022 – sebesar US$ 620 miliar (Rp 9.250 triliun).
Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Royke Tumilaar mengatakan, dinamika pasar keuangan ekstrem telah terjadi sejak 2008 yakni subprime mortgage dan terus berlanjut krisis pada 2011, 2013, 2015, 2018, 2020, dan saat ini di mana suku bunga naik secara agresif. Hal itu disebabkan negara-negara mengalami inflasi cukup tinggi, sehingga bank sentral menaikkan suku bunganya.
Seperti The Fed yang menaikkan bunga 475 basis poin (bps) ke level 5%. Hal tersebut untuk menekan inflasi yang pada Juni tahun lalu berada di level 9%. Langkah The Fed pun diikuti Bank Indonesia (BI) yang juga mengerek suku bunga acuan menjadi 5,75% saat ini.
Menurut Royke, kenaikan bunga acuan yang tinggi menjadi tantangan bagi industri perbankan. Pasalnya, begitu suku bunga naik, bank memiliki ancaman seperti NPL naik, biaya dana naik, dan hal tersebut merupakan situasi yang tidak bisa dielakkan.
"Kenaikan bunga ini juga berdampak sangat negatif bagi para investor surat berharga jangka panjang. Berdasarkan data FDIC, saat ini unrealized loss perbankan di AS kurang lebih US$ 620 miliar. Sebagian besar perbankan menilai ini masih manageable karena punya modal kuat, namun beberapa bank bisa menggerus modal, salah satunya SVB," urai Royke, baru-baru ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




