Kejatuhan SVB Mengajarkan Perbankan Nasional Pentingnya Kepercayaan Nasabah
Minggu, 9 April 2023 | 09:14 WIB
Pada saat pandemi Covid-19, terjadi booming teknologi, SVB cukup konsentrasi dananya dari sektor teknologi. Pengelolaannya dialokasikan pada surat berharga jangka panjang. Pada saat yang sama, SVB juga ada kekosongan manajemen yang membuat kondisi internal kurang dipantau.
"Kita lihat manajemen SVB juga terbuka mengatakan butuh suntikan modal saat itu, ditambah faktor eksternal mulai pulihnya ekonomi, masyarakat mulai beraktivitas fisik, startup dan teknologi mulai tumbang. Perubahan perilaku nasabah secara digital juga mulai berdampak pada penarikan DPK, sehingga struktur pelemahan SVB ditambah eksternal jadi tekanan," jelas Bambang.
Secara garis besar, kata Bambang, kelemahan mendasar SVB adalah strategi bank dalam mengelola dana jangka pendek menjadi jangka panjang. Sehingga terjadinya maturity mismatch, ditambah penarikan DPK dan lemahnya komunikasi yang tidak pas semakin meningkatkan risiko reputasi, risiko konsentrasi, dan risiko likuiditas sehingga menyebabkan isu likuiditas struktural.
"Penanaman surat berharga dan force selling surat berharga sehingga menjadi turun, ini menyebabkan rentabilitas yang membuat tekanan pada bank sehingga muncul isu solvabilitas. Kalau sudah mengenai likuiditas dan solvabilitas, kondisi bank agak susah untuk diselamatkan," ujar Bambang.
Artikel ini telah tayang di Investor.id dengan judul Potensi Unrealized Loss Bank AS Setara Rp 9.250 Triliun!
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




