ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kejatuhan SVB Mengajarkan Perbankan Nasional Pentingnya Kepercayaan Nasabah

Minggu, 9 April 2023 | 09:14 WIB
NS
FB
Penulis: Nida Sahara | Editor: FMB
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BNI Tahun Buku 2022, Rabu (15/3/2023).
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BNI Tahun Buku 2022, Rabu (15/3/2023). (Investor Daily/Nida Sahara)

Di mana kejatuhan SVB salah satunya dipicu ketika mereka mendapatkan modal baru dengan mengumumkan potensi kerugian dari surat berharga. "Yang mana mendapatkan sentimen negatif dari investor. Sehingga terjadi penjualan besar-besaran, penarikan dana besar-besaran dan terjadi risiko likuiditas," ungkap Royke.

Oleh karena itu, terdapat pelajaran yang dapat diambil perbankan nasional untuk terhindar dari kasus SVB. Pertama, dari sisi risiko konsentrasi. Perbankan harus bisa mengelola portofolio dengan baik. Kedua, risiko likuiditas yang harus diperhatikan perbankan.

Ketiga, risiko pasar, dan terakhir adalah risiko reputasi. "Penyampaian strategi perusahaan yang tidak tepat berpotensi mengurangi tingkat kepercayaan nasabah. Hal ini berdampak buruk pada institusi, oleh karena itu peran paling penting kepada perbankan dalam melakukan komunikasi sebelum melakukan corporate action," jelas Royke.

ADVERTISEMENT

Pada saat yang sama, Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah dan Syariah merangkap Plt Deputi Komisioner Regional OJK Bambang Widjanarko mengatakan, SVB merupakan bank yang masuk dalam 16 besar di AS, yang utamanya terkonsentrasi pada start-up dan modal ventura. Selain itu, hampir 97% dari dana pihak ketiga (DPK) merupakan simpanan yang tidak dijamin.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon