BI Prediksi The Fed Naikkan Suku Bunga Dua Kali Lagi hingga Akhir Tahun
Selasa, 22 Agustus 2023 | 15:44 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (Fed) diprediksi masih akan menaikkan suku bunga acuan untuk menurunkan inflasi yang tinggi, seiring akhir siklus pengetatan kebijakan moneter di negara itu.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan The Fed akan menaikan suku bunga acuan dua kali lagi hingga akhir tahun 2023. Langkah The Fed ini sebagai salah satu upaya untuk menurunkan inflasi di negara tersebut.
"Kami pikir akan selesai, tetapi masih akan satu atau dua kali lagi kenaikan suku bunga acuan The Fed," ucap Perry Warjiyo dalam acara ASEAN Fest 2023, di Jakarta, Selasa (22/8/2023).
Tingkat inflasi di AS sendiri sebesar 3,2% pada Juli 2023 atau naik tipis dari posisi Juni 2023 yang sebesar 3%.
The Federal Reserve sendiri sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bp) ke posisi 5,25% - 5,50% pada Juli 2023. Sementara itu, tingkat pengangguran Amerika Serikat juga turun ke 3,5% pada Juli 2023.
"Amerika berjuang hanya dengan menggunakan satu suku bunga untuk melawan inflasi. Butuh waktu sangat lama dan sekarang resesi," kata Perry.
Rektor Universitas Indonesia (UI), Ari Kuncoro mengatakan bahwa saat terjadi tingkat penurunan tingkat pengangguran di AS maka terjadi kenaikan peningkatan kesempatan kerja.
Peningkatan ini akan memberikan efek domino terhadap kenaikan tingkat kesejahteraan masyarakat khususnya melalui pendapatan. Namun hal ini juga harus diwaspadai pengaruhnya terhadap geliat inflasi.
"Argumennya ini pasar tenaga kerja masih ketat, sehingga kesempatan kerja yang naik bisa menimbulkan potensi inflasi di masa depan. Sehingga The Fed sebagian besar masih berpendapat masih diperlukan kenaikan suku bunga," ungkapnya.
Ari Kuncoro menuturkan, BI tentu akan melihat tingkat kompetitif kebijakan suku bunga acuan yang saat ini masih di angka 5,75%.
Mencermati ketidakpastian perekonomian global, BI dinilai masih berada dalam kondisi untuk mempertahankan suku bunga acuan. BI bisa mengoptimalkan instrumen giro wajib minimum dalam menjaga arus modal di pasar keuangan domestik.
"Jadi tidak perlu menaikan suku bunga. Karena kalau menaikan suku bunga bisa berakibat pada sektor-sektor berorientasi ekspor. Mereka butuh modal kerja, jadi keseimbangannya penting dijaga," kata Ari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




