Harga Emas Dunia Turun Lebih dari 1 Persen
Sabtu, 2 Mei 2026 | 08:48 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga emas dunia mengalami penurunan lebih dari 1% pada perdagangan Jumat (1/5/2026) dan berpotensi mencatat pelemahan mingguan dengan besaran serupa. Tekanan ini terjadi imabs lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran inflasi. Hal itu memperkecil peluang bank sentral memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Mengutip CNBC, Sabtu (2/5/2026), harga emas spot tercatat turun 1,1% ke level US$ 4.568,82 per ons dan mengarah pada penurunan mingguan sekitar 1,2%. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Juni juga melemah 1,1% menjadi US$ 4.579,70 per ons.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, dalam jangka pendek harga emas menunjukkan korelasi negatif terhadap harga minyak.
“Harga emas tetap berkorelasi negatif dengan harga minyak dalam jangka pendek, karena hal itu memengaruhi ekspektasi suku bunga,” ujarnya.
Ketegangan geopolitik turut memperburuk sentimen pasar. Iran menyatakan akan melancarkan serangan panjang dan menyakitkan terhadap posisi AS jika terjadi eskalasi lanjutan, sekaligus menegaskan klaimnya atas Selat Hormuz.
Pada sisi lain, harga minyak mentah Brent telah melonjak hingga dua kali lipat dibanding awal tahun. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran perlambatan ekonomi global serta lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi.
Inflasi di AS tercatat meningkat pada Maret, dipicu kenaikan harga bahan bakar akibat konflik, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga lebih lama.
Sejumlah bank sentral besar juga mengambil langkah serupa. Bank Sentral Eropa dan Bank of England mempertahankan suku bunga, mengikuti kebijakan Federal Reserve dan Bank of Japan pada pekan yang sama.
Emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik kini tertekan oleh lingkungan suku bunga tinggi. Hal ini karena investor cenderung beralih ke instrumen berimbal hasil seperti obligasi pemerintah AS.
Namun, UBS tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka menengah. Staunovo menilai sejumlah faktor akan mendukung harga logam mulia tersebut dalam 6 hingga 12 bulan ke depan.
“Ketidakpastian seputar pemilihan paruh waktu di AS yang akan datang, ekspektasi melemahnya dolar AS dari waktu ke waktu, dan penurunan suku bunga riil (karena The Fed memangkas suku bunga) kemungkinan akan mendukung permintaan investasi bersamaan dengan permintaan bank sentral yang berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut berpotensi mendorong harga emas mendekati US$ 5.900 per ons pada akhir 2026.
Sementara itu, logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan. Harga perak spot turun 0,6% menjadi US$ 73,27 per ons, platinum melemah 1,3% ke US$ 1.960,30, dan paladium turun 0,6% menjadi US$ 1.515,37 per ons.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




