RI, Malaysia, dan Honduras Desak Kampanye Hitam CPO Dihentikan
Rabu, 27 September 2023 | 18:42 WIB
Perwakilan pertanian dan komoditas dari negara-negara produsen utama seperti Indonesia, Malaysia, India, Tiongkok, dan Uni Eropa, perwakilan organisasi internasional seperti Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim, serta perusahaan multinasional besar dan petani, membahas peran penting minyak sayur yang perlu ditekankan sebagai alat fundamental bagi kemanusiaan, baik untuk konsumsi makanan maupun berbagai aplikasi lainnya, termasuk dalam pencapaian SDGs.
Menteri Pertanian dan Peternakan Honduras Suazo, menyampaikan keprihatinannya mengenai tantangan yang dihadapi oleh produsen kecil Honduras dan pabrik ekstraksi akibat perubahan kebijakan impor Uni Eropa yang baru-baru ini terjadi. Padahal, Honduras sudah memiliki cetak biru untuk mengembangkan industri arikulturnya.
Sekretaris Jenderal Kementerian Perkebunan & Komoditas Malaysia, Dato' Mad Zaidi bin Mohd Karli, menekankan bahwa populasi dunia terus tumbuh, dan dunia berada di bawah tekanan untuk memenuhi permintaan global akan makanan dan bahan bakar.
"Pertanyaan kunci yang perlu dihadapi bukanlah tentang menggantikan minyak kelapa sawit, tetapi mengakui bagaimana minyak kelapa sawit berkelanjutan dapat memenuhi permintaan ini secara efisien, ekonomis, dan berkelanjutan. Minyak kelapa sawit terbukti memberikan dampak positif pada keamanan pangan global berkat produktivitas tingginya, beragamnya aplikasi, dan kemampuannya untuk meningkatkan keamanan pangan," kata dia.
Managing Director Solidaridad Asia Shatadru Chattopadhayay, , mendesak Uni Eropa agar mengimplementasikan secara inklusif regulasi yang mendiskriminasi CPO, yaitu European Union Deforestastion Regulation (EUDR), dengan menciptakan tiga hal, yaitu:
"Pertama, menerapkan kuota inklusivitas, menjamin persentase tertentu impor minyak kelapa sawit dari petani kecil di Indonesia dan Malaysia. Kedua, mendukung petani kecil kelapa sawit dengan memberikan pembiayaan awal, bantuan teknis, dan pasar yang terjamin untuk kredit karbon. Ketiga, mendukung penyelarasan standar keberlanjutan wajib nasional seperti Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dengan EUDR."
Sekretaris Jenderal CPOPC Rizal Affandi Lukman, mengingatkan peran minyak kelapa sawit dalam menyediakan pendekatan, gagasan, dan langkah-langkah baru untuk memastikan ketahanan dan kemakmuran sektor minyak sayur global dalam jangka panjang.
Dia menekankan bahwa bagi konsumen utama seperti India, minyak kelapa sawit akan melengkapi minyak sayur yang diproduksi secara domestik, bukan sebagai pesaing, untuk memastikan keamanan pangan dan energi. CPO adalah bahan baku krusial dalam campuran biofuel, yang saat ini dimandatkan berbagai negara.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




