Menteri: "Masak begitu ada kesalahan, langsung diminta mundur."
Jumat, 26 November 2010 | 17:00 WIBSelambatnya dalam dua pekan ke depan, Menteri BUMN akan mengumumkan penilaian kekacauan di Garuda.
Garuda minta maaf kepada para penumpang. "Maaf, jam profesional saya rusak..."
Itulah karikatur di Jakarta Post edisi Jumat, 26 November, menyindir telak kekacauan sistem baru yang konon seluruh pelayanan, termasuk penjadwalan tugas pilot, lewat komputer, sistem yang dinamakan Integrated Operational Control System (IOCS).
Hasil sistem baru, Ahad, 21 November lalu sejumlah penerbangan terlambat atau dibatalkan. Ini terjadi hingga Rabu, 24 November. Kamis, 25 November kemarin, menurut juru bicara Garuda, seluruh sistem sudah berjalan normal.
Toh, kekacauan empat hari harus dijelaskan. Dan hari ini, menurut Menteri BUMN Mustafa Abubakar, laporan resmi dari direksi Garuda sudah ada di mejanya.
"Ya, laporan hasil investigasi sudah ada di meja saya tapi saya belum lihat," kata Mustafa kepada wartawan. "Katanya kan kemarin itu ada kabel yang copot. Jadi saya minta diinvestigasi [kekacauan itu]."
Dari laporan itu akan dinilai, siapa yang bertanggung jawab atas kekacauan penerapan IOCS tersebut. "Kami lihat secara proporsional saja," kata Menteri. "Kalau memang kesalahannya pada tingkat dirut, tidak menutup kemungkinan [beliau diminta mengundurkan diri]."
Namun buru-buru Menteri Abubakar melanjutkan: "Tapi masak begitu ada kesalahan, pejabat langsung kami minta mundur." Menurut Menteri pula, keputusan paling lambat akan diumumkan dua pekan lagi.
Suara yang meminta dirut Garuda mengundurkan diri terdengar dari Komisi VI DPR yang mengurusi BUMN. Komisi ini sudah menyatakan bahwa kemaburadulan penerapan sistem baru adalah keteledoran manajemen.
Kalau tak ada tindakan, dikhawatirkan kekacauan itu memengaruhi rencana Garuda go public pada kuartal pertama tahun depan, 2011. Rencananya, Garuda akan melepaskan 30 persen sahamnya.
Sebenarnya suara dari Senayan bisa dikatakan suara yang meminta pertanggungjawaban etis. Tidakkah kesalahan kekacauan itu ada pada dirut atau bukan, tetap saja yang bertanggung jawab adalah "komandan"?
Bukankah kita mendengar, menteri pertahanan Korea Selatan mengundurkan diri, karena ada serangan dari Korea Utara? Ia tak menunggu presiden menyatakan bahwa serangan itu kesalahan atau bukan kesalahan dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




