ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Chatib Basri Prediksi Tren Suku Bunga Tinggi Masih Berlanjut

Selasa, 24 Oktober 2023 | 20:55 WIB
AK
H
Penulis: Arnoldus Kristianus | Editor: HE
Ekonom Universitas Indonesia, Chatib Basri (tengah) dalam acara BNI Investor Daily Summit 2023 yang digelar di Hutan Kota by Pelataran Senayan, Selasa, 24 Oktober 2023.
Ekonom Universitas Indonesia, Chatib Basri (tengah) dalam acara BNI Investor Daily Summit 2023 yang digelar di Hutan Kota by Pelataran Senayan, Selasa, 24 Oktober 2023. (Beritasatu.com/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonom Universitas Indonesia, Chatib Basri memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) masih akan terus meningkatkan suku bunga acuannya (Federal Fund Rate/FFR) sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi kenaikan suku bunga surat utang AS.

Dalam konteks ini, Bank Indonesia (BI) perlu bersiap menghadapi potensi kenaikan FFR guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan laju inflasi.

"Saya menduga interest rate-nya masih akan naik, jadi tingkat bunga masih akan naik, dan kita akan berhadapan dengan exchange rate yang melemah," kata Chatib Basri dalam acara BNI Investor Daily Summit 2023 yang digelar di Hutan Kota by Pelataran Senayan, Selasa (24/10/2023).

ADVERTISEMENT

Chatib menyarankan beberapa langkah yang bisa diambil oleh BI untuk mengantisipasi situasi ini, yaitu mempertahankan suku bunga acuan, walaupun dengan nilai tukar yang terus melemah, atau meningkatkan suku bunga acuan.

Sebelumnya dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada 18-19 Oktober 2023, telah diambil keputusan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 6,00%, suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,25%, dan suku bunga lending facility sebesar 25 basis poin menjadi 6,75%.

Chatib juga menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini belum seburuk yang terjadi pada 2013. Saat ini, depresiasi rupiah hanya mencapai sekitar 2%, sementara mata uang lain seperti ringgit Malaysia dan Yen Jepang mengalami depresiasi sekitar 8%. Data kurs dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan, nilai tukar rupiah pada Selasa (24/10/2023) Rp 15.869 per dolar AS.

"Jadi sebenarnya ruang bagi BI melakukan depresiasi ada, dikombinasi dengan menaikkan bunga dan kebijakan makroprudensial," tutur Chatib.

Dalam acara yang sama, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menekankan bahwa ketidakpastian dalam perekonomian global masih memengaruhi situasi perekonomian domestik. Kebijakan kenaikan suku bunga acuan The Fed diperkirakan akan mengakibatkan arus modal asing keluar dari negara-negara berkembang, yang pada gilirannya dapat memengaruhi perekonomian nasional.

"Pelemahan ekonomi global yang kami antisipasi akan pulih tahun depan tampaknya masih belum terjadi. Kebijakan kenaikan suku bunga Amerika Serikat yang tinggi dan dalam waktu yang lama juga semakin mempersulit situasi bagi negara-negara berkembang," kata Jokowi.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Prabowo Perintahkan Bunga Kredit Prasejahtera di Bawah 9 Persen

Prabowo Perintahkan Bunga Kredit Prasejahtera di Bawah 9 Persen

EKONOMI
Harga Perak Dunia Melemah Ikuti Emas

Harga Perak Dunia Melemah Ikuti Emas

EKONOMI
Harga Emas Dunia Turun Lebih dari 1 Persen

Harga Emas Dunia Turun Lebih dari 1 Persen

EKONOMI
The Fed Tahan Suku Bunga, Dunia Bersiap Hadapi Volatilitas Baru

The Fed Tahan Suku Bunga, Dunia Bersiap Hadapi Volatilitas Baru

EKONOMI
Harga Perak Dunia Ikut Naik 3,15 Persen Ditopang Sentimen Selat Hormuz

Harga Perak Dunia Ikut Naik 3,15 Persen Ditopang Sentimen Selat Hormuz

EKONOMI
Harga Emas Dunia Menguat setelah Iran Pastikan Selat Hormuz Dibuka

Harga Emas Dunia Menguat setelah Iran Pastikan Selat Hormuz Dibuka

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon