ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

"Tanoto Entrepreneurship Series" Tularkan Semangat Wirausaha kepada Generasi Muda

Selasa, 8 Oktober 2013 | 22:21 WIB
H
B
Penulis: Herman | Editor: B1
Kuliah umum kewirausahaan
Kuliah umum kewirausahaan "Tanoto Entrepreneurship Series" menghadirkan dua pembicara yakni Anne Avantie, seorang desainer kebaya Indonesia dan Martin B. Hartono, CEO PT. Global Digital Prima. (Beritasatu.com/Herman)

Jakarta - Tanoto Foundation bekerja sama dengan Program Magister Management Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia kembali menggelar kuliah umum kewirausahaan Tanoto Entrepreneurship Series, Selasa (8/10) petang.

Bertempat di Auditorium Magister Mangement Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, kuliah umum kali ini menghadirkan dua pembicara yakni Anne Avantie, seorang desainer kebaya Indonesia dan Martin B. Hartono, CEO PT. Global Digital Prima.

Tanoto Entrepreneurship Series adalah kegiatan yang rutin diselenggarakan oleh Tanoto Foundation bekerja sama dengan MM FEUI untuk turut mendukung pertumbuhan entrepreneur di Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Anne Avantie menceritakan awal mula membangun bisnis di bidang fashion, khususnya kebaya.

ADVERTISEMENT

"Saya sebetulnya hanya lulusan SMP dan tidak pernah sekolah fashion. Tapi saya punya talenta dan kelebihan itulah yang terus saya asah. Karena kalau karya kita mau dilihat orang, tentunya karya itu harus istimewa dan itu dibutuhkan talenta," kata desainer berusia 49 tahun itu.

Anna juga menekankan tentang pentingnya membangun imej agar bisa terlihat di antara yang lain. "Saya menganggap bahwa diri saya adalah marketing. Jalan dari belakang pun orang sudah tahu kalau itu Anna Avantie, karena sudah 22 tahun penampilan saya seperti ini. Kalau kita tidak punya hal yang spesifik atau kekhususan, kita akan sulit terlihat di antara orang pintar lainnya," tegas dia.

Kekhususan itulah yang juga diterapkan Anna dalam setiap desain-desainnya. "Saya pernah mencoba mendesain baju pesta dan baju tari, tapi tidak berhasil. Lalu kemudian saya coba membuat kebaya dengan desain yang tidak biasa di luar pakem yang sudah ada. Apa yang ada di pikiran langsung saya tuangkan ke dalam desain tanpa menggunakan teori-teori yang sudah umum berlaku," kata desainer yang karya-karyanya kerap dipakai Miss Universe saat berkunjung ke Indonesia.

Pro dan kontra pun bermunculan. Bahkan pada 2000, sebuah media massa sempat menuliskan kalau Kartini akan menangis bila melihat kebaya Anne Avantie, karena dianggap telah merusak pakem yang sudah ada.

"Buat saya, pro dan kontra itu selalu membawa efek. Tapi karena keunikan dari kebaya yang saya buat itulah, saya bisa bertahan sampai sekarang. Saya merawat sesuatu yang tidak biasa itu menjadi sesuatu yang luar biasa. Bahkan kemudian muncul plagiat-plagiat yang meniru karya saya," ujar Anne yang memulai kariernya sebagai perancang busana pada 1989.

Dalam perjalanan menjadi seorang entrepreneur, Martin Hartono juga mengingatkan bahwa setia orang nantinya pasti akan mengalami banyak kegagalan. Namun kegagalan-kegagalan itu harusnya bisa menjadi pelajaran dan memperkaya pengalaman untuk kemudian diperbaiki.

"Untuk menjadi seorang entrepreneur juga tidak ada batasan usia. Beberapa pengusaha yang sukses bahkan ada yang memulainya di usia 40-an. Yang penting mau terus belajar dan tidak kapok bila menghadapi kegagalan," pesan dia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon