Surplus Neraca Perdagangan Bonus Bagi Perekonomian
Selasa, 15 Oktober 2013 | 12:56 WIB
Jakarta - Chief Economist/Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan surplus neraca perdagangan pada Agustus 2013 sebesar 0,13 miliar merupakan suatu bonus bagi perekonomian Indonesia. Menurutnya surplus neraca perdagangan membuat perekonomian lebih bergairah di tengah ancaman eksternal yang terus mengancam.
Dia menuturkan ada banyak dampak positif yang ditimbulkan dari surplus neraca perdagangan, salah satunya defisit dalam neraca transaksi berjalan pun mulai menipis, jika defisit neraca transaksi berjalan menipis maka ada potensi nilai tukar rupiah akan menguat.
Destry menuturkan pemerintah harus bisa mempertahankan surplus dalam neraca perdagangan agar perekonomian bisa tetap stabil. Menurutnya surplus neraca perdagangan mencerminkan kinerja ekspor Indonesia sudah mulai membaik dan realisasi nilai impor sedikit mengalami penurunan.
Destry menilai membaiknya kinerja ekspor pada Agustus 2013 tentu berdampak langsung terhadap pengurangan defisit dalam neraca transaksi berjalan karena penyebab utama tingginya defisit dalam neraca transaksi berjalan adalah kinerja ekspor melemah sedangkan nilai impor sangat tinggi.
"Salah satu upaya dalam mengurangi defisit dalam neraca transaksi berjalan adalah meningkatkan kinerja ekspor, pada Agustus 2013 kinerja ekspor sudah kembali bergairah tentu hal ini memberikan dampak positif terhadap pengurangan defisit," ujar dia ketika dihubungi di Jakarta, baru-baru ini.
Destry menjelaskan pemerintah tidak boleh berpuas diri karena neraca perdagangan mengalami surplus pada Agustus. Menurutnya masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah untuk mengurangi defisit neraca transaksi berjalan tidak hanya meningkatkan kinerja ekspor tetapi pemerintah perlu melakukan upaya upaya lain.
Dia menuturkan upaya tersebut adalah tetap fokus dalam penerapan biofuel dengan tujuan mengurangi impor minyak. Menurut dia jika pemerintah fokus dalam penerapan biofuel maka ketergantungan akan impor minyak secara perlahan bisa dikurangi. Dia menjelaskan dalam penerapan biofuel, pemerintah bisa menggunakan kepala sawit sebagai energi alternatif selain minyak bumi.
Menurutnya penerapan biofuel sudah ada dalam paket kebijakan pemerintah yang dikeluarkan 23 agustus yang lalu. Destry berharap sebelum akhir tahun, Implementasi paket kebijakan tersebut sudah terealisasi dengan baik karena ujung tombak dalam perbaikan perekonomian ada dalam paket kebijakan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




