Budi Starch & Sweetener Targetkan Penjualan Naik 15%
Senin, 9 Desember 2013 | 22:02 WIB
Jakarta - PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI), anak usaha Sungai Budi Group, menargetkan penjualan naik 10-15% pada 2014 dibandingkan target penjualan tahun ini sebesar Rp 2,4 triliun.
"Kami juga menargetkan laba bersih sebesar Rp 50-60 miliar. Perseroan akan menggenjot pasar ekspor hingga 20% dari saat ini 3%," ujar Deputy President Director Sudarmo Tasmin di Jakarta, Senin (9/12)
Dia mengatakan, produksi dan panen singkong perseroan diperkirakan naik tahun depan. Juga, menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah memungkinkan perseroan untuk memperbesar porsi ekspor. Adapun tujuan ekspor perseroan adalah Tiongkok, Malaysia, Vietnam, dan Taiwan.
Perseroan juga menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 205 miliar atau naik dibandingkan capex tahun ini Rp 100 miliar. Belanja modal berasal dari kas internal dan eksternal.
"Capex akan dipakai untuk ekspansi perseroan," ucap dia.
Menurut dia, perseroan akan melakukan ekspansi glucose, sorbitol dan maltodextrine di Lampung dengan nilai investasi Rp 180 miliar. Ekspansi fructose di Krian, Jawa Timur dan PT Assosiated British Budi masing-masing Rp 90 miliar dan Rp 20 miliar.
Selain itu, ekspansi tapioca di Makasar Rp 24 miliar. Sisa capex akan dipakai untuk capex rutin perseroan.
Sementara itu, anak usaha Sungai Budi lainnya PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1 triliun pada 2014. Dana capex akan digunakan untuk peroperasian pabrik gula rafinasi (sugar mill), perawatan kebun sawit, dan penambahan kebun tebu.
"Pengoperasian pabrik gula membutuhkan dana Rp 500 miliar, sedangkan sisanya untuk perawatan rutin dan penambahan kapasitas kebuh," kata Deputy President Director Tunas Lampung Sudarmo Tasmin saat paparan publik di Jakarta, belum lama ini.
Sudarmo menjelaskan, dana belanja modal berasal dari kas internal 35% dan 65% pinjaman bank. Saat ini, perseroan sudah mengantongi kredit tersebut dari bank swasta nasional. "Tahun depan, kami memang ingin fokus pada dua bisnis inti yakni kelapa sawit dan gula tebu," ujar dia.
Sesuai rencana, Tunas Lampung akan meningkatkan produksi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dari 240 ribu ton menjadi 300 ribu ton pada 2014. Sedangkan tandan buah segar (TBS) ditingkatkan menjadi 800 ribu ton dari produksi saat ini sekitar 600-700 ribu ton.
Hingga September 2013, Tunas Lampung membukukan penjualan sebesar Rp 2,4 triliun, turun 15% dari periode sama tahun lalu Rp 2,8 triliun. Penurunan tersebut akibat merosotnya harga jual rata-rata CPO, minyak goreng, stearine, PKO, dan PFAD, sekitar 15%.
Kinerja laba bersih perseroan juga anjlok 66% menjadi Rp 74,2 miliar periode ini dari sebelumnya Rp 217 miliar di kuartal III-2012. "Turunnya laba disebabkan kerugian selisih kurs yang belum terealisasi sebesar Rp 138 miliar dan kerugian kurs yang telah terealisasi Rp 17 miliar. Selain itu, kenaikan beban bunga Rp 61 miliar," papar Sudarmo.
Untuk ekspor, kata dia, Tunas Lampung mencetak kinerja sebesar US$ 132 juta per September 2013 dibandingkan tingkat utang US$ 110 juta. Hingga akhir tahun ini, ekspor perseroan diperkirakan mencapai US$ 200 juta.
Optimistis
Meskipun kinerja merosot pada 2013, Tunas Lampung tetap optimistis denganperformance perseroan pada tahun depan. Salah satunya, pengoperasian pabrik gula di Way Tunik, Lampung, berkapasitas 60 ribu ton gula rafinasi (Kristal) per hari.
"Bisnis gula itu prospeknya besar. Setelah sugar mill di Lampung beroperasi, maka kontribusi pendapatan akan meningkat. Pendapatan 2014 ditargetkan mencapai 3,8 triliun dibandingkan estimasi tahun ini Rp 3,2 triliun," ucap Sudarmo.
Secara perlahan, lanjut dia, pihaknya akan menambah kapasitas pabrik sebanyak 10 ribu ton perhari. Selain itu, optimisme tahun depan juga akan berasal dari kenaikan harga CPO.
"Tunas Lampung menargetkan laba bersih bisa mencapai Rp 250 miliar. Ini sesuai dengan ekspektasi kami setiap tahun," jelas dia.
Tunas Lampung mendirikan pabrik gula melalui anak usahanya PT Adikarya Gemilang, di atas tanah seluas empat hektare (ha). Perseroan sudah mendapatkan alokasi impor raw sugar sebanyak 18.000 ton dari Kementerian Perdagangan.
"Untuk tahap awal, kami akan menjual gula untuk untuk industri makanan dan minuman di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya," papar Sudarmo.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




