IPO Atlas Oversubscribed 2,5 kali
Selasa, 1 November 2011 | 15:36 WIB
Perusahaan batubara ini bersiap melantai di bursa pada 8 November mendatang.
Rencana penawaran umum saham perdana (Initial public offering/IPO) PT Atlas Resources Tbk mengalamai kelebihan permintaan (oversubscribed) 2,5 kali. Perusahaan batubara ini bersiap melantai di bursa (listing) pada 8 November mendatang.
"Hasil penawaran awal (bookbuilding) dan roadshow mencatatkan Atlas Resources mengalami oversubscribed saham sebanyak 2,5 kali," kata Managing Director PT Indo Premier Securities, Moleonoto, selaku penjamin emisi dalam keterangan tertulisnya, hari ini.
Dia mengatakan, dari total saham yang ditawarkan sebagian besar diserap investor institusi. Sementara hanya sebagian kecil saja yang diserap investor ritel. Dengan banyaknya investor institusi, diharapkan dapat menghindari penurunan harga saham saat pencatatan perdana (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pasalnya, investor institusi cenderung menahan sahamnya untuk jangka panjang, dibanding investor ritel. "Kami melihat minat investor terhadap saham Atlas cukup bagus, dan semoga bisa menjadi saham yang liquid," kata Moleonoto.
Perusahaan yang mendapat pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada 31 Oktober 2011 ini melakukan roadshow ke Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara Asia seperti Hongkong, Singapura. "Kami roadshow ke New York, dan Boston," kata Moleonoto.
Direktur Utama Atlas, Andre Abdi mengatakan, perseroan melepas 650.000.000 saham atau setara dengan 21,67 persen modal yang ditempatkan dan disetor. Dana IPO ditargetkan hingga Rp 975 miliar. Selain indopremier, bertindak sebagai penjamin emisi efek PT UBS Securities Indonesia.
Dana IPO, sekitar 60 persen atau Rp 540 miliar digunakan untuk membiayai modal kerja, belanja modal infrastruktur dan pengembangan fasilitas penunjang di Hub Muba. Sementara sekitar 40 persen digunakan untuk akusisi wilayah IUP tambahan dan atau peningkatan kepemilikan pada anak perusahaan yang berhubungan dengan pertambangan.
Selain itu, dana IPO juga untuk membayar biaya kompensasi atas restrukturisasi kontrak pemasokan batubara kepada Noble menjadi kontrak pemasaran dan penjualan baru tidak melebihi Rp 221 miliar dan membiayai modal kerja Rp 138 miliar. Untuk pengembangan Hub Muba, Atlas juga mendapat fasilitas pinjaman sindikasi senilai US$ 90 juta.
Rencana penawaran umum saham perdana (Initial public offering/IPO) PT Atlas Resources Tbk mengalamai kelebihan permintaan (oversubscribed) 2,5 kali. Perusahaan batubara ini bersiap melantai di bursa (listing) pada 8 November mendatang.
"Hasil penawaran awal (bookbuilding) dan roadshow mencatatkan Atlas Resources mengalami oversubscribed saham sebanyak 2,5 kali," kata Managing Director PT Indo Premier Securities, Moleonoto, selaku penjamin emisi dalam keterangan tertulisnya, hari ini.
Dia mengatakan, dari total saham yang ditawarkan sebagian besar diserap investor institusi. Sementara hanya sebagian kecil saja yang diserap investor ritel. Dengan banyaknya investor institusi, diharapkan dapat menghindari penurunan harga saham saat pencatatan perdana (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pasalnya, investor institusi cenderung menahan sahamnya untuk jangka panjang, dibanding investor ritel. "Kami melihat minat investor terhadap saham Atlas cukup bagus, dan semoga bisa menjadi saham yang liquid," kata Moleonoto.
Perusahaan yang mendapat pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada 31 Oktober 2011 ini melakukan roadshow ke Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara Asia seperti Hongkong, Singapura. "Kami roadshow ke New York, dan Boston," kata Moleonoto.
Direktur Utama Atlas, Andre Abdi mengatakan, perseroan melepas 650.000.000 saham atau setara dengan 21,67 persen modal yang ditempatkan dan disetor. Dana IPO ditargetkan hingga Rp 975 miliar. Selain indopremier, bertindak sebagai penjamin emisi efek PT UBS Securities Indonesia.
Dana IPO, sekitar 60 persen atau Rp 540 miliar digunakan untuk membiayai modal kerja, belanja modal infrastruktur dan pengembangan fasilitas penunjang di Hub Muba. Sementara sekitar 40 persen digunakan untuk akusisi wilayah IUP tambahan dan atau peningkatan kepemilikan pada anak perusahaan yang berhubungan dengan pertambangan.
Selain itu, dana IPO juga untuk membayar biaya kompensasi atas restrukturisasi kontrak pemasokan batubara kepada Noble menjadi kontrak pemasaran dan penjualan baru tidak melebihi Rp 221 miliar dan membiayai modal kerja Rp 138 miliar. Untuk pengembangan Hub Muba, Atlas juga mendapat fasilitas pinjaman sindikasi senilai US$ 90 juta.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




