BI Sebut Suku Bunga The Fed Akan Melandai hingga 2024
Senin, 13 November 2023 | 17:29 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) akan tetap melakukan pengetatan kebijakan moneter hingga 2024. Federal Reserve diperkirakan baru akan menurunkan suku bunga acuannya pada semester II 2024.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa suku bunga acuan Federal Reserve diperkirakan masih akan mengalami kenaikan satu kali lagi pada akhir 2023, dari 5,5% menjadi 5,75%. Namun, pada tahun 2024, Federal Reserve diantisipasi akan mulai melonggarkan suku bunga acuannya pada semester II 2024.
"Tahun depan juga masih tinggi, kemungkinan Federal Reserve baru akan mulai turun lagi di paruh kedua tahun depan," ujar Perry Warjiyo dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di gedung DPR pada Senin (13/11/2023).
Perry menyebut salah satu faktor yang memicu gejolak perekonomian di Amerika Serikat adalah besarnya utang pemerintah untuk membiayai dampak pandemi Covid-19 dan perang. Situasi ini berdampak pada imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS atau yield US Treasury yang meningkat pesat pada 2023.
"Pada kuartal III 2023, yield US Treasury 10 tahun ini melonjak dari 3,84% menjadi 4,57%, dan kemungkinan masih akan naik menjadi 5,16% di akhir tahun. Ini akan bertahan relatif tinggi di 2024, dan baru akan turun menjadi 4,87% di paruh kedua tahun tersebut," papar Perry.
Dengan tingginya suku bunga dan yield obligasi di AS, terjadi pelarian modal dalam jumlah besar ke negara tersebut, mendorong penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat.
"Indeks dolar AS meningkat dari 102,6 pada kuartal II 2023 menjadi 103,3 di kuartal IV 2023, mencapai 107. Ini adalah penguatan dolar, dan tahun depan akan mulai melemah tetapi tetap tinggi, yaitu 102,1," ungkap Perry.
Menurut Perry, fenomena ini membutuhkan upaya ekstra keras dari seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia. BI berupaya menjaga ketahanan ekonomi, terutama terhadap dampak stabilitas nilai tukar, pelarian modal, stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan keseimbangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
"Sinergi yang sangat erat antara pemerintah dan BI turut menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Sinergitas ini tidak hanya pada koordinasi moneter dan fiskal, tetapi juga untuk bersama-sama menjaga inflasi dan kecukupan cadangan devisa," tegas Perry.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




