BI Diproyeksi Akan Tahan Suku Bunga Acuan 6 Persen, Ini Alasannya
Rabu, 21 Februari 2024 | 09:31 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 6% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berakhir Rabu (21/2/2024) sejak Selasa (20/2/2024) kemarin. Ketahanan perekonomian domestik dan kemungkinan penurunan suku bunga The Fed lebih rendah dalam waktu dekat, menjadi pemicu BI mempertahankan suku bunga.
“Mengingat The Fed tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, BI diproyeksi mempertahankan suku bunga di level 6% bulan ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” kata Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam Laporan Seri Analisis Makroekonomi Rapat Dewan Gubernur BI Februari 2024 yang diterima pada Rabu (21/2/2024) dikutip Investor Daily.
Pada Januari 2024, inflasi tahunan turun tipis menjadi 2,57% (year in year/yoy) dari 2,61% (yoy) pada Desember 2023. Tingkat inflasi Januari 2024 merupakan inflasi umum tahunan terendah dalam 3 bulan terakhir, mendekati titik tengah target inflasi 1,5%-3,5% pada tahun 2024.
Perlambatan inflasi pada Januari 2024 didorong penurunan kenaikan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau (5,87% (yoy) pada Januari 2024 dibandingkan 6,18% (yoy) pada Desember 2023 dan kelompok pengeluaran transportasi sebesar 1,11% secara tahunan pada Januari 2024 dibandingkan 1,27% (yoy) pada Desember 2023 seiring meredanya efek musiman libur Natal dan Tahun Baru.
Riefky menuturkan dalam beberapa bulan mendatang, tekanan inflasi akan disebabkan peningkatan pengeluaran akibat libur panjang pada Februari 2024 dan harga pangan menjelang Ramadan akibat naiknya permintaan. Selain pangan, kenaikan permintaan diperkirakan akan terjadi pada kelompok pengeluaran pakaian dan mobilitas masyarakat menjelang Ramadan dan Idulfitri. Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan lebih krusial dalam mengendalikan inflasi.
“Terutama tekanan dari komoditas pangan, mengingat komoditas pangan saat ini memiliki porsi yang lebih besar dari total konsumsi di survei biaya hidup,” tutur Riefky.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




