ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kelas Menengah Merana, Ekonom Indef Usul APBN Beri Insentif Belanja Produktif

Rabu, 6 Maret 2024 | 20:37 WIB
AF
AD
Penulis: Alfida Rizky Febrianna | Editor: AD
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto. (Beritasatu.com/Vinnilya)

Jakarta, Beritasatu.com - Masyarakat kelas menengah di Indonesia masih rentan terdampak guncangan perekonomian. Ekonom menilai, pemerintah perlu menyiapkan insentif yang berasal dari APBN untuk fokus pada kesejahteraan kelas menengah, salah satunya lewat belanja produktif.

Ekonom sekaligus Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menekankan pemerintah harus memperhatikan kesejahteraan kelas menengah karena menjadi tumpuan Indonesia untuk menjadi negara maju. Kelas menengah diketahui menyokong sebagian besar penerimaan pajak untuk masuk ke APBN.

Eko mengusulkan, kebijakan yang dapat diambil pemerintah melalui insentif tidak langsung untuk belanja produktif, seperti belanja di sektor pendidikan hingga digital dan tanpa perlu memberikan bantuan langsung tunai seperti untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

ADVERTISEMENT

"Kebijakan yang lebih penting untuk mereka itu adalah insentif tidak langsung. Jadi bukan seperti cash transfer dan lain-lain, tetapi bentuknya adalah insentif untuk mereka yang tidak hanya mengonsumsi lebih banyak dan juga kelompok produktif," ujar Eko, dalam FGD Investor Daily "Merayu Kelas Menengah" di Jakarta, Rabu (6/3/2024).

Eko menjelaskan, sumber utama dana pemberian insentif belanja produktif masyarakat kelas menengah ini bisa melalui APBN. Menurutnya, APBN masih mampu memberikan insentif bagi masyarakat kelas menengah, selama itu tersalurkan dalam bentuk non-cash transfer.

"Salah satunya memang harus dari APBN, karena bagaimanapun itu penting dan APBN kita juga cukup besar kalau untuk memberikan insentif ke kelas menengah dan itu menjadi salah satu jalan," kata dia.

Eko menekankan, hal ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Pasalnya, meski masuk dalam kelompok yang pendapatannya lebih besar dari masyarakat miskin, masyarakat menengah belum dapat menopang kebutuhannya sendiri.

"Walaupun sudah terkategorisasi dari sisi pengeluaran mereka kelas menengah, tetapi sebenarnya penopangnya dari pendapatan itu belum begitu besar. Itu terlihat dari tabungan mereka," pungkasnya.

Eko menambahkan, Bank Dunia juga menyebut kelas menengah masih dalam posisi yang sangat rentan. Artinya, ketika perkonomian mengalami perlambatan dan terjadi shock tertentu, kelas menengah akan sangat mudah terjun ke level kelas terbawah.

"Itu menggambarkan dari sisi tingkat harga yang kenaikannya relatif lebih cepat dibandingkan tingkat pendapatan mereka. Sehingga upaya upaya untuk mendorong produktivitas ya dengan insentif," pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kelas Menengah Menyusut, Pertumbuhan Ekonomi RI Dinilai Rapuh

Kelas Menengah Menyusut, Pertumbuhan Ekonomi RI Dinilai Rapuh

EKONOMI
Waspada! Kelas Menengah Paling Tercekik Kenaikan Harga Energi

Waspada! Kelas Menengah Paling Tercekik Kenaikan Harga Energi

MULTIMEDIA
Daya Beli Masyarakat Jadi Kunci Jaga Ekonomi Kuartal II 2026

Daya Beli Masyarakat Jadi Kunci Jaga Ekonomi Kuartal II 2026

EKONOMI
Hilirisasi Jadi Kunci Indonesia Keluar dari Jebakan Middle Income

Hilirisasi Jadi Kunci Indonesia Keluar dari Jebakan Middle Income

EKONOMI
7 Kebiasaan Finansial yang Bikin Kelas Menengah Susah Kaya

7 Kebiasaan Finansial yang Bikin Kelas Menengah Susah Kaya

EKONOMI
Hipmi Dorong APBN 2026 Beri Insentif untuk Kelas Menengah

Hipmi Dorong APBN 2026 Beri Insentif untuk Kelas Menengah

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon