ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Inflow Rp 509 Miliar, BREN Perkuat Posisi di Pasar Modal dan Energi Terbarukan

Senin, 21 Oktober 2024 | 16:03 WIB
GN
GV
Penulis: Gesa Vitara Puspa Nur | Editor: GV
Star Energy Geothermal Salak, beroperasi di dataran tinggi Gunung Salak. Satu-satunya unit panas bumi yang beroperasi di ketinggian Hutan Gunung Halimun Salak.
Star Energy Geothermal Salak, beroperasi di dataran tinggi Gunung Salak. Satu-satunya unit panas bumi yang beroperasi di ketinggian Hutan Gunung Halimun Salak. (Barito/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com – PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terus membuktikan diri sebagai pemain penting di pasar modal Indonesia. Meskipun IHSG bergejolak, BREN masih mencatatkan prestasi sebagai salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada 22 Mei 2024, market cap BREN mencapai puncak Rp 1.505,02 triliun. 

Meski kapitalisasi pasar BREN terkoreksi ke Rp 959,92 triliun pada akhir perdagangan Jumat (18/10), ini lebih mencerminkan volatilitas pasar dibanding penurunan kinerja fundamental. Harga saham BREN kini berada di level Rp 7.175 per lembar, turun dari rekor sebelumnya di Rp 11.250 per lembar pada 22 Juni 2024. BREN sendiri baru mencatatkan saham perdananya di BEI pada 29 September 2023 dengan kapitalisasi awal Rp 104,35 triliun, dan dalam waktu tiga bulan berhasil menembus Rp 1.000 triliun.  

Pada Jumat (18/10/2024), BlackRock mengumumkan bahwa bobot BREN pada portofolio iShares Global Clean Energy ETF (ICLN) dan iShares Global Clean Energy UCITS ETF (INRG) meningkat dari 0,64% menjadi 1,36%.

ADVERTISEMENT

Melihat hal ini, Theodorus Melvin, Investment Analyst Stockbit, menyatakan ini menghasilkan net buy sebesar 70,9 juta saham.

"Atau setara dengan Rp 509 miliar berdasarkan harga penutupan Rp 7.175 per saham,” tuturnya.

Sementara itu, Pertamina Geothermal Energy (PGEO) mengalami penurunan bobot dari 0,16% menjadi 0%, dengan total net sell sebesar 103,5 juta saham. 

Ia menambahkan bahwa rebalancing MSCI akan berlangsung pada November 2024, disusul oleh FTSE pada Desember 2024.

“Harga saham BREN berpotensi volatil menjelang rebalancing seiring ekspektasi sebagian pelaku pasar bahwa perseroan akan masuk ke dalam salah satu atau kedua indeks tersebut,” ujar Theodorus.

Dengan dukungan dari investor, serta prospek positif di sektor energi terbarukan, BREN optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon