ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bursa Kripto Iran Diretas Hacker Pro-Israel, Kerugian Capai Rp 1,3 T

Kamis, 19 Juni 2025 | 09:23 WIB
WT
WT
Penulis: Wahyu Sahala Tua | Editor: WS
Bursa kripto Iran, Nobitex diretas oleh hacker pro-Israel dengan kerugian mencapai Rp 1,3 triliun.
Bursa kripto Iran, Nobitex diretas oleh hacker pro-Israel dengan kerugian mencapai Rp 1,3 triliun. (Coin Telegraph/DOK)

Jakarta, Beritasatu.com -  Kelompok hacker pro-Israel mengeklaim bertanggung jawab atas peretasan besar yang menimpa Nobitex, bursa kripto terbesar di Iran. Serangan siber ini menyebabkan kerugian fantastis senilai US$ 81,7 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun dalam bentuk aset digital, menjadikannya salah satu insiden kripto paling menghebohkan tahun ini.

Informasi ini pertama kali diungkap oleh peneliti on-chain terkemuka, ZachXBT, melalui unggahan Telegram pada Rabu (18/6/2025). Ia mengungkap bahwa dana dalam jumlah besar telah dikuras dari blockchain Tron dan sejumlah jaringan EVM-compatible. Modus yang digunakan para pelaku adalah vanity address, yaitu dompet digital dengan susunan karakter yang bisa disesuaikan secara khusus.

Kelompok peretas yang menyebut diri mereka Gonjeshke Darande, dikenal sebagai hacker pro-Israel, secara terbuka mengeklaim aksi tersebut. Mereka bahkan mengumumkan akan merilis kode sumber dan berkas internal Nobitex dalam waktu 24 jam setelah serangan, sembari mengancam bahwa sisa aset pengguna masih dalam bahaya.

Menanggapi insiden ini, Nobitex mengakui adanya akses ilegal ke beberapa dompet panas (hot wallets), dan langsung menonaktifkannya. Lewat pernyataan di platform X (sebelumnya Twitter), mereka memastikan bahwa aset pengguna tetap aman karena sebagian besar disimpan di sistem penyimpanan dingin (cold storage)

ADVERTISEMENT

“Mereka juga menegaskan bahwa seluruh kerugian yang terjadi akan ditanggung melalui dana asuransi dan cadangan internal perusahaan,” tulis Coin Telegraph.

Menurut analis keamanan dari Cyvers, Hakan Unal, kemungkinan besar serangan ini terjadi akibat kelalaian dalam kontrol akses internal. Hal ini memberi celah bagi peretas untuk masuk dan menguras aset dari berbagai jaringan blockchain. Menariknya, menurut Unal, sebagian besar dana curian belum dipindahkan ke platform lain, menandakan adanya tujuan selain sekadar mencari keuntungan finansial.

Konflik geopolitik antara Iran dan Israel juga menjadi latar yang tak bisa diabaikan. Dalam pernyataan publiknya, hacker pro-Israel dari Gonjeshke Darande menyebut bahwa Nobitex adalah “jantung dari aktivitas rezim Iran untuk mendanai terorisme global dan melanggar sanksi internasional.” Mereka bahkan menyebut bekerja di Nobitex setara dengan “wajib militer” bagi warga Iran.

Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer antara kedua negara. Israel baru saja meluncurkan serangan udara terbesar ke Iran sejak era Perang Iran-Irak, yang telah menewaskan sedikitnya 224 orang di Iran dan 24 di Israel, menurut data dari The Guardian.

Analis keamanan dari Hacken, Yehor Rudytsia, menilai bahwa aksi peretasan ini sarat muatan politis. Ia mencatat bahwa sebagian aset digital hasil curian dikirim ke puluhan alamat pembakar (burner addresses), alamat yang tak bisa digunakan kembali, tanpa jejak atau upaya pemulihan. Menurutnya, satu-satunya peluang pemulihan adalah jika pihak Tether bersedia membekukan dan mencetak ulang sekitar USD 55 juta USDT yang hilang.

Kerugian Nobitex tercermin jelas dalam data dari Arkham. Total aset dompet mereka anjlok dari US$ 1,8 miliar pada 16 Juni 2025  menjadi hanya US$ 96 juta dua hari kemudian. Meski begitu, Hakan Unal menegaskan bahwa penurunan ini belum tentu sepenuhnya akibat serangan. Menurutnya, Nobitex memang secara berkala melakukan migrasi dompet panas sebagai bagian dari prosedur keamanan.

Peristiwa ini menambah panjang daftar peretasan besar di dunia kripto tahun 2025. Menurut laporan dari CertiK, total kerugian akibat peretasan aset digital sejak awal tahun sudah menembus US$  2,1 miliar. Sebagian besar bukan disebabkan oleh kelemahan protokol, melainkan kelalaian pengelolaan dompet, kegagalan kontrol akses, serta peningkatan kasus penipuan sosial seperti address poisoning.

Dengan kompleksitas teknis dan aroma politik yang kental, serangan terhadap Nobitex ini menjadi bukti bahwa ancaman dari hacker pro-Israel tak hanya menyasar sistem teknologi, tetapi juga bagian dari konflik siber yang makin intens antara dua negara bermusuhan. Dunia kripto pun kini kembali diingatkan bahwa perang modern bisa terjadi tanpa suara tembakan, cukup dengan satu alamat dompet yang diketik dengan niat menyerang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon