Harga Minyak Dunia Naik Dipicu Kebijakan Tarif AS
Rabu, 9 Juli 2025 | 08:59 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga minyak global menguat ke posisi tertinggi dalam dua pekan pada Selasa (8/7/2025), dipicu oleh proyeksi penurunan produksi minyak AS, meningkatnya ketegangan geopolitik di Laut Merah, kekhawatiran atas kebijakan tarif tembaga dari Amerika Serikat, serta dorongan teknikal lewat aksi short covering.
Mengutip Reuters, Rabu (9/7/2025), harga minyak Brent naik 57 sen atau 0,8% ke posisi US$ 70,15 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup menguat 40 sen atau 0,6% menjadi US$ 68,33 per barel. Kedua acuan mencatatkan penutupan tertinggi sejak 23 Juni, dan menguat selama dua hari berturut-turut.
Analis Price Futures Group Phil Flynn menjelaskan, revisi turun terhadap proyeksi produksi minyak AS menjadi pemicu awal penguatan harga. “Kabar mengenai tarif tembaga dan konflik di Laut Merah memperkuat pergerakan naik,” ujarnya.
Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan produksi minyak domestik sepanjang 2025 akan lebih rendah dari estimasi sebelumnya. Pelemahan harga menjadi salah satu alasan berkurangnya aktivitas pengeboran oleh para produsen energi.
Pada sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif impor sebesar 50% terhadap tembaga guna mendorong produksi dalam negeri. Kebijakan ini membuat harga tembaga melonjak ke rekor tertinggi.
Situasi di Laut Merah turut memperburuk sentimen pasar. Sebuah kapal berbendera Liberia bernama Eternity C yang dioperasikan oleh perusahaan Yunani, diserang oleh drone dan kapal cepat, menewaskan tiga awak kapal. Ini adalah serangan kedua yang terjadi dalam satu hari setelah beberapa bulan relatif tenang.
Insiden tersebut memicu kekhawatiran pasar karena berdampak langsung terhadap jalur pelayaran minyak dan LNG. Banyak kapal kini memilih rute alternatif yang lebih panjang, sehingga memicu lonjakan biaya pengiriman energi secara global.
Secara teknikal, kenaikan harga juga diperkuat oleh aksi short covering setelah Brent menembus level psikologis US$ 70 per barel.
Selain itu, kenaikan harga bensin dan solar di AS dalam beberapa pekan terakhir turut mendorong margin kilang atau crack spread. Diesel crack spread tercatat menyentuh level tertinggi sejak Maret 2024, sementara 3:2:1 crack spread berada pada titik tertinggi dalam enam pekan terakhir.
Analis Ritterbusch and Associates menyebutkan, kekuatan pasar minyak saat ini cukup mengejutkan. “Harga tetap menunjukkan tren naik meskipun dihadapkan pada tekanan negatif yang biasanya menekan pasar,” ungkapnya.
Sentimen negatif yang dimaksud antara lain rencana lanjutan perang dagang oleh Presiden Trump serta kebijakan OPEC+ untuk menambah produksi sebanyak 548.000 barel per hari mulai Agustus 2025.
Adapun analis pasar memperkirakan stok minyak mentah AS turun sekitar 2,1 juta barel dalam sepekan terakhir. Jika akurat, ini akan menjadi penurunan stok keenam dalam tujuh pekan terakhir, menunjukkan bahwa permintaan tetap solid.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu, penarikan stok mencapai 3,4 juta barel, sementara rata-rata lima tahun terakhir justru mencatatkan peningkatan sebesar 1,9 juta barel.
Data resmi dari American Petroleum Institute (API) dan Energy Information Administration (EIA) dijadwalkan rilis masing-masing pada Selasa malam dan Rabu (9/7/2025) waktu setempat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




