ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

SSIA Berpotensi Masuk MSCI Didukung Akuisisi Grup Djarum

Jumat, 25 Juli 2025 | 07:10 WIB
MF
AD
Penulis: Muhamad Ghafur Fadillah | Editor: AD
Peluang PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) untuk masuk ke dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Small Cap semakin terbuka.
Peluang PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) untuk masuk ke dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Small Cap semakin terbuka. (Beritasatu.com/David Gita Roza)

Jakarta, Beritasatu.com - Peluang PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) untuk masuk ke dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Small Cap semakin terbuka. Kenaikan kapitalisasi pasar, meningkatnya likuiditas, dan aksi borong saham oleh Grup Djarum menjadikan SSIA sorotan utama di bursa dalam beberapa pekan terakhir.

Pengumuman resmi perubahan komposisi MSCI Small Cap dijadwalkan pada 7 Agustus 2025 dan mulai berlaku efektif 27 Agustus 2025. SSIA diperkirakan lolos seleksi setelah mengalami lonjakan harga dan volume perdagangan yang signifikan.

Analis Samuel Sekuritas Ahnaf Yassar dan Prasetya Gunadi menyebut kapitalisasi pasar free float SSIA telah mencapai US$ 618 juta, jauh di atas ambang minimum MSCI sebesar US$ 250 juta. Rata-rata nilai transaksi harian selama 12 bulan juga mencapai US$ 1,8 juta, melebihi ambang batas US$ 1 juta.

ADVERTISEMENT

"Masuknya SSIA ke indeks MSCI akan meningkatkan visibilitas perusahaan di mata investor global. Ini juga berpotensi menarik dana dari investor pasif dan mengubah tren penjualan asing menjadi pembelian bersih," ujar Ahnaf dan Prasetya dalam riset mereka dikutip Kamis (24/7/2025).

Salah satu pemicu utama lonjakan saham SSIA adalah akuisisi 5,89% saham oleh Grup Djarum, yang kini melampaui kepemilikan Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu. Aksi akumulasi ini mencerminkan keyakinan investor institusional terhadap prospek jangka panjang emiten kawasan industri tersebut.

Menurut Hendra Wardana, pengamat pasar modal dan pendiri Republik Investor, SSIA kini menjadi salah satu saham primadona. Dengan harga saham yang telah menembus Rp 2.560, banyak investor mulai mengambil posisi untuk mengantisipasi potensi kenaikan lanjutan.

“SSIA bukan lagi saham biasa. Proyek Subang Smartpolitan menjadi daya tarik utama, apalagi dengan adanya proyek jalan tol menuju Pelabuhan Patimban yang ditargetkan rampung 2026,” ujarnya.

Jalan tol ini diperkirakan memangkas waktu tempuh dari kawasan industri Subang ke Pelabuhan Patimban hingga 70%. Hal ini diyakini akan meningkatkan daya tarik kawasan bagi investor lokal maupun asing.

Harga lahan di Subang Smartpolitan juga meningkat, kini mencapai US$ 120 per meter persegi, naik sekitar 50% secara tahunan. Jika infrastruktur rampung, harga ini diproyeksikan dapat naik hingga 30% lagi.

Sebagai perbandingan, harga lahan di Bekasi dan Karawang naik masing-masing 37% dan 39,8% saat pembangunan Tol Trans Jawa pada 2015-2018. Ini mengindikasikan potensi serupa di Subang setelah tol dan Patimban tahap II selesai akhir 2025.

Hendra juga menyebut, Grup Djarum berpotensi menambah kepemilikan di SSIA. "Djarum kerap melakukan akuisisi bertahap seiring perkembangan fundamental emiten. Jika valuasi masih menarik, sangat mungkin mereka menambah porsi," jelasnya.

Kepemilikan strategis di kawasan industri bisa menjadi sinergi bagi bisnis Djarum di logistik, perbankan, dan teknologi.

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo Indy Naila menilai, prospek SSIA dalam jangka menengah solid, baik secara fundamental maupun aksi korporasi. “Potensi pertumbuhan ASP dan volume penjualan lahan menjadi katalis positif bagi pendapatan SSIA,” katanya.

SSIA menargetkan penjualan lahan industri 60-70 hektare per tahun. Proyeksi ini dianggap realistis seiring peningkatan permintaan lahan setelah infrastruktur pendukung selesai dibangun.

Seiring sentimen positif ini, beberapa analis menaikkan target harga saham SSIA. Samuel Sekuritas merekomendasikan buy dengan target Rp 4.000 per saham, mencerminkan potensi kenaikan 38,4%. Edvisor Profina merekomendasikan trading buy dengan target Rp 2.800.

Namun, investor tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko seperti keterlambatan proyek, tantangan implementasi, dan potensi perubahan regulasi. Keberhasilan SSIA dalam menyelesaikan Subang Smartpolitan menjadi faktor penting menjaga momentum positif.

Masuknya Grup Djarum sebagai pemegang saham utama SSIA menciptakan efek herding di kalangan investor ritel. Kehadiran konglomerat besar sering dianggap validasi terhadap prospek jangka panjang emiten.

“Dengan keberadaan Djarum, SSIA mendapat semacam cap of approval dari investor institusional. Ini mendorong minat beli ritel yang lebih agresif,” jelas Hendra.

Jika SSIA resmi masuk MSCI Small Cap, likuiditas saham diperkirakan akan meningkat signifikan, didukung masuknya dana dari reksa dana pasif global.

Dengan harga saat ini di kisaran Rp 2.560, dan target jangka pendek Rp 2.800-Rp 4.000, SSIA dinilai memiliki potensi kenaikan menarik, khususnya bagi investor dengan strategi jangka menengah hingga panjang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon