ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Garap Tambang Emas Skala Besar Pertamanya, Uganda Minta Bantuan China

Selasa, 19 Agustus 2025 | 05:02 WIB
MK
MK
Penulis: Martin Bagya Kertiyasa | Editor: MBK
Ilustrasi tambang emas
Ilustrasi tambang emas (AFP)

Jakarta, Beritasatu.com - Uganda telah meresmikan tambang emas skala besar pertamanya, sebuah proyek senilai US$ 250 juta yang dikelola perusahaan milik China. Terletak di wilayah timur, fasilitas tersebut juga akan memurnikan emas batangan hingga mencapai kemurnian 99,9%.

Negara Afrika timur yang terkurung daratan ini memang memiliki beragam mineral termasuk tembaga, kobalt, dan bijih besi. Dalam rangka memperluas industri pertambangannya dan memposisikan diri sebagai produsen dan eksportir emas utama, mereka pun meminta bantuan pada China.

Menurut data bank sentral, tahun lalu Uganda meraup US$ 3,4 miliar dari ekspor emas, sekitar 37% dari total pendapatan ekspor negara tersebut. Angka tersebut mencakup ekspor ulang emas yang dibawa ke negara tersebut, dengan hampir seluruh produksi domestiknya berasal dari penambang rakyat skala kecil.

ADVERTISEMENT

Meskipun pendapatan ekspor emasnya telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, negara ini masih jauh tertinggal dari produsen emas batangan terbesar di Afrika, Ghana, yang meraup US$ 11,6 miliar dari pengiriman logam tersebut tahun lalu.

"Untuk bangkit di sektor mineral, kita harus memiliki nilai tambah penuh untuk semua mineral seperti emas, litium, timah, dan lainnya," kata Presiden Yoweri Museveni dalam sebuah pernyataan seperti dilansir dari Reuters.

Proyek pertambangan emas Wagagai, yang dimiliki oleh Wagagai Mining (U) Limited, mencakup lahan seluas lebih dari 9 kilometer persegi di distrik Busia, diresmikan oleh Museveni pada akhir pekan kemarin.

Pabrik yang telah mulai beroperasi ini diperkirakan akan memproses 5.000 ton bijih emas per hari dan menghasilkan sekitar 1,2 metrik ton emas olahan per tahun. Angka ini naik jauh dibandingkan dengan total produksi domestik Uganda yang hanya 0,0042 ton pada tahun 2023.

Uganda akan menggunakan pendapatan yang dihasilkan dari ekspor emas untuk mengembangkan aset-aset seperti pembangkit listrik dan jalur kereta api negara tersebut. Uganda yang terkurung daratan saat ini tengah membangun jalur kereta api berukuran standar senilai 2,7 miliar euro (US$ 3,16 miliar) untuk mengurangi biaya pengangkutan ekspor dan impornya melalui negara tetangga Kenya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon