ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Investor Kembali Masuk Agresif ke Pasar Obligasi Indonesia

Senin, 8 Desember 2025 | 06:02 WIB
MF
MK
Penulis: Muhamad Ghafur Fadillah | Editor: MBK
Ilustrasi urang negara.
Ilustrasi urang negara. (Antara/Antara)

Jakarta, Beritasatu.com – Pasar Surat Berharga Negara (SBN) menjelang akhir 2025 menunjukkan penguatan signifikan seiring membaiknya sentimen global maupun domestik.

Investor kembali agresif masuk ke pasar obligasi Indonesia, terutama SUN tenor menengah hingga panjang, didukung ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve pada pertemuan FOMC 17–18 Desember 2025.

Ekonom Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menegaskan pasar obligasi Indonesia kini berada pada fase pemulihan kuat setelah tekanan eksternal sepanjang paruh pertama 2025 mereda.

ADVERTISEMENT

“Stabilnya yield UST 10 tahun di kisaran 4,1%–4,2%, melemahnya DXY, dan probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed yang sudah mendekati 90% membuat aliran modal kembali deras ke emerging markets, termasuk Indonesia,” ujar Yusuf kepada Beritasatu.com.

Menurut dia, kondisi tersebut mendorong yield SBN, khususnya SUN tenor 10 tahun, bergerak turun dengan ruang penurunan tambahan dalam 1–2 pekan ke depan. Dari level 6,19% per Kamis (5/12/2025), yield diperkirakan masih bisa menuju kisaran 6,00%–6,10%.

Yusuf menjelaskan pasar telah price in pemangkasan 25 basis poin oleh The Fed serta ekspektasi forward guidance yang lebih dovish. Selain itu, faktor teknikal seperti window dressing perbankan dan institusi domestik turut memperkuat tren penurunan yield.

Secara fundamental, Indonesia berada pada posisi solid. Inflasi terjaga di sekitar 2%, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) tetap terkendali, dan nilai tukar rupiah stabil di level Rp 16.600 per dolar AS.

Dengan spread terhadap UST yang masih sekitar 200 basis poin, SBN tetap menawarkan imbal hasil yang menarik bagi investor global.

Meski prospek positif, pasar tetap mencermati sejumlah faktor utama. Data inflasi AS pada Selasa (10/12/2025) menjadi penentu kepastian pemangkasan suku bunga The Fed dan arah pasar obligasi global.

Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Rabu–Kamis (17–18/12/2025) diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Namun, sinyal menuju potensi penurunan suku bunga pada kuartal I 2026 dinilai akan menjadi katalis positif bagi pasar SBN.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Minat Investor ke SUN Bakal Didominasi Jangka Pendek

Minat Investor ke SUN Bakal Didominasi Jangka Pendek

EKONOMI
Bakal Dihindari Investor Asing, SUN Tertekan Pelemahan Rupiah

Bakal Dihindari Investor Asing, SUN Tertekan Pelemahan Rupiah

EKONOMI
Utang Pemerintah Hampir Sentuh Rp 10.000 Triliun

Utang Pemerintah Hampir Sentuh Rp 10.000 Triliun

EKONOMI
Pelemahan Rupiah dan Harga Minyak Tekan SBN

Pelemahan Rupiah dan Harga Minyak Tekan SBN

EKONOMI
Mayoritas Investor Domestik, Pasar Obligasi RI Lebih Tahan Tekanan

Mayoritas Investor Domestik, Pasar Obligasi RI Lebih Tahan Tekanan

EKONOMI
Lelang 9 SUN, Pemerintah Bidik Rp 49,5 Triliun

Lelang 9 SUN, Pemerintah Bidik Rp 49,5 Triliun

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon