Harga Minyak Tertekan, Pasar Cermati Pasokan Global dan Venezuela
Rabu, 7 Januari 2026 | 09:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (6/1/2026) waktu setempat. Pelaku pasar menimbang prospek pasokan global yang diperkirakan melimpah pada 2026, di tengah ketidakpastian arah produksi minyak Venezuela setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Minyak mentah Brent tercatat turun US$1,06 atau 1,7% ke level US$ 60,70 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 1,19 atau sekitar 2% menjadi US$ 57,13 per barel.
Baca Juga: Siapa Kuasai Minyak Venezuela setelah Nicolas Maduro Ditangkap AS?
Analis PVM Oil Tamas Varga menilai masih terlalu dini untuk mengukur dampak penangkapan Maduro terhadap keseimbangan pasar minyak global. Namun, ia menegaskan pasokan minyak pada 2026 diperkirakan tetap mencukupi, terlepas dari ada atau tidaknya tambahan produksi dari negara-negara anggota OPEC.
Laporan analis Morgan Stanley menyebutkan pertumbuhan permintaan minyak global tahun lalu hanya sekitar 900.000 barel per hari, lebih rendah dari tren historis sebesar 1,2 juta barel per hari.
Pada saat yang sama, pasokan dari OPEC meningkat 1,6 juta barel per hari, sedangkan pasokan non-OPEC naik sekitar 2,4 juta barel per hari hingga 2025. Kondisi tersebut dinilai membuat pasar minyak berpotensi mengalami surplus hingga 3 juta barel per hari pada paruh pertama 2026.
Survei pasar yang dilakukan Reuters pada Desember lalu juga menunjukkan ekspektasi harga minyak masih berada di bawah tekanan akibat pasokan berlebih dan permintaan yang melemah.
Pada sisi lain, penangkapan Maduro memunculkan spekulasi baru terkait kemungkinan percepatan pencabutan embargo minyak AS terhadap Venezuela. Presiden AS Donald Trump bahkan mengklaim perusahaan minyak AS siap berinvestasi untuk mendongkrak produksi dan ekspor negara tersebut.
Baca Juga: Temuan Sumur Minyak Baru di Sumsel Berpotensi Hasilkan Ribuan Barel
Beberapa CEO perusahaan minyak AS dikabarkan akan mengunjungi Gedung Putih untuk membahas peluang investasi di Venezuela. Namun, analis Rystad Energy memperkirakan tambahan produksi dari Venezuela hanya sekitar 300.000 barel per hari dalam dua hingga tiga tahun mendatang, mengingat keterbatasan investasi dan kondisi infrastruktur.
Produksi minyak Venezuela sendiri rata-rata berada di kisaran 1,1 juta barel per hari tahun lalu. Untuk mencapai target jangka panjang hingga 3 juta barel per hari pada 2040, dibutuhkan suntikan modal internasional yang signifikan, termasuk bagi perusahaan minyak negara PDVSA.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




